ANALISIS KALIMAT DALAM LAGU ANAK-ANAK
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Lagu anak-anak saat ini makin jarang diperdengarkan bahkan lagu anak-anak yang baru pun dapat dikatakan cukup langka. Anak-anak kini lebih banyak menyanyikan lagu orang dewasa. Mereka lebih hafal lagu-lagu Ungu, Geisha, Vierra, dan nama-nama band remaja saat ini yang sedang popular daripada lagu semisal Potong Bebek Angsa, Balonku, Lihat Kebunku, dan lagu-lagu semacamnya.
Fenomena seperti ini seolah sudah biasa serta terkadang orangtua merasa hal tersebut wajar dan itu merupakan dampak perkembangan zaman. Bahkan, tidak sedikit orangtua yang merasa bangga karena anaknya yang masih balita pandai menyanyi meski yang dinyanyikannya lagu orang dewasa. Krisis identitas anak tidak begitu ditanggapi dan jarang diangkat dalam forum ilmiah. Persoalan hilangnya lagu anak sempat dibahas di program Bukan Rahasia yang tayang di tvOne tiap Jum'at pkl 23.00-24.00 wib. Yang tampil waktu itu Tasya, Kak Seto, dan Ira Maya Sopha. Tentu aja didampingi oleh Caroline Surachmat dan pengamat musik Remy Soetansyah. Namun demikian acara-acara seperti ini tidak begitu banyak diadakan dan sepi peminat. Hal ini bisa dilihat dari jam tayangnya. Di jam-jam tersebut barangkali sudah tidak banyak pemirsa TV yang masih bisa menyaksikannya.
Menghilangnya lagu anak-anak yang saat ini tergeser oleh perkembangan zaman sudah sepantasnya lebih sering ditelaah, diteliti, ataupun dikaji agar tidak semakin asing dan benar-benar ‘hilang’. Di era 90-an barangkali kita masih bisa mendengarkan lagu-lagunya Bondan Prakoso, Eza Yayang, Cikita Meidy, Joshua, Enno Lerian, Sherina dan terakhir Tasya. Akan tetapi, setelah era itu jarang terdengar lagu anak-anak.
Berdasarkan hal-hal di atas makalah ini akan menganalisis kalimat dalam lagu-lagu anak. Dengan harapan dapat diperoleh temuan tentang seluk beluk kalimat dalam lagu-lagu anak. Selain itu juga diharapkan agar lagu-lagu anak dapat didokumentasikan, dikaji, ataupun ditelaah dari segi unsur bahasanya.
2. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah bagaimanakah analisis kalimat dalam lagu-lagu anak; yang mencakup analisis-analisis : (a). unsur konstituennya; (b) struktur kalimatnya; dan (c) tipe kalimatnya.
3. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
a. Mendeskripsikan unsur-unsur konstituen dalam kalimat pada lagu-lagu anak.
b. Mendeskripsikan struktur kalimat pada lagu-lagu anak.
c. Mendeskripsikan tipe kalimat pada lagu-lagu anak.
4. Batasan Masalah
Analisis makalah ini dibatasi pada 5 lagu anak, yakni Aku Seorang Kapiten, Balonku, Bangun Tidur, Bintang Kecil, dan Si Kancil Nakal.
5. Manfaat Penelitian
Manfaat kajian makalah/penelitian ini secara umum adalah untuk memperoleh gambaran mengenai analisis kalimat dalam lagu-lagu anak dan kajian ini juga bermanfaat untuk terapan maupun sumber kajian dalam kajian analisis kalimat.
B. Kajian Pustaka
1. Kajian Makalah/ Artikel
Kajian-kajian mengenai lagu-lagu anak maupun analisis kalimat sudah pernah ada sebelumnya. Penelitian mengenai lagu anak ataupun tembang anak pernah dilakukan oleh Gatiningsih dan Khoirul Huda. Penelitian yang dilakukan oleh Gatiningsih (Etd. Ums.ac.id) diberinya judul Diksi dan Gaya Bahasa dalam Lagu-lagu Anak karya A.T Mahmud.
Penelitian ini mengangkat masalah mengenai bagaimana penggunaan diksi dan gaya bahasa dalam lirik lagu anak-anak ciptaan A.T. Mahmud. Tujuan penelitian ini untuk mendiskripsikan penggunaan diksi dan gaya bahasa dalam lirik lagu anak-anak ciptaan A.T. Mahmud. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah penggunaan diksi dan gaya bahasa dalam lirik lagu anak-anak ciptaan A.T. Mahmud. Data dalam penelitian ini adalah penggunaan diksi dan gaya bahasa pada lagu anak-anak ciptaan A.T. Mahmud. Sumber dalam penelitian ini adalah sumber data tertulis yang berupa teks lagu anak-anak ciptaan A.T. Mahmud.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik simak dan catat. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis isi. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemakaian kata kongkrit, kata khusus, kata umum dan kata yang bermakna denotatif terlihat lebih mendominasi dari pemakaian kata abstrak, kata konotatif, kata lugas dan kata kiasan. Namun dalam penelitian ini diksi kongkrit lebih dominan. Dalam lagu anak-anak ciptaan A.T. Mahmud memakai gaya bahasa personifikasi, repetisi dan hiperbola. Namun dalam penelitian ini gaya bahasa repetisi lebih dominan. Dengan gaya bahasa yang indah, anak-anak diperkenalkan akan nilai estetika pada sebuah lagu.
Adapun penelitian yang dilakukan oleh Khoirul Huda (JIPTUMMPP / 2004) berjudul Nilai-nilai dalam tembang dolanan anak Jawa. Penelitian ini dilandasi oleh ketertarikan peneliti terhadap tembang dolanan anak Jawa yang saat ini mulai dilupakan.
Sumber data penelitian ini berupa teks tembang dolanan anak Jawa yang bertuliskan dengan aksara Jawa. Tembang dolanan anak Jawa dalam buku ini ada 30 tembang. Untuk itu peneliti akan membatasinya atau hanya memilih 15 tembang, untuk mendapatkan hasil yang baik. Dalam hal ini peneliti tidak memilih yang sekiranya berhubungan dengan penelitian ini. Peneliti hanya membatasi dari tembang 1-15 yang akan dianalisis sesuai dengan kebutuhan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai yang terkandung dalam tembang dolanan anak tersebut. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang nilai-nilai dalam teks tembang dolanan anak Jawa. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah untuk memperoleh deskripsi obyektif tentang (1) nilai religius dalam tembang dolanan anak Jawa (2) nilai sosial dalam tembang dolanan anak Jawa.
Metode yang sesuai untuk menentukan dan memahami nilai-nilai dalam teks tembang dolanan Jawa adalah metode penelitian diskriptif kualitatif, yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif berupa kata-kata atau tulisan. Hasil penelitian yang diperoleh dalam hal ini menunjukkan bahwa (1) tembang-tembang dolanan anak Jawa ternyata sarat dengan pesan moral. Dari tembang dolanan anak Jawa dapat dilihat wujud kebaktian kepada Tuhan. Tembang di atas semuanya merupakan nasehat bagi semua masyarakat. Nasehat itu menganjurkan untuk selalu berbuat baik dan tidak sombong karena yang pantas untuk sombong adalah Tuhan. dalam tembang tersebut juga menganjurkan untuk melakukan amal ibadah shalat lima waktu dan berdzikir, untuk menghapus dosa-dosa kecil kerana manusia tidak luput dari perbuatan dosa. Manusia dianjurkan berbuat demikian karena manusia yang hidup di dunia semua akan mati untuk itu berbahagialah seseorang yang masih punya banyak kesempatan untuk melakukan ibadah kepada Tuhan, (2) dalam tembang dolanan anak Jawa juga sarat akan nilai-nilai sosial.
Telaah dalam makalah ini tentu sangat berbeda dengan kedua peneltian di atas karena makalah ini mengkaji analisis kalimat pada lagu-lagu anak. Analisisnya berupa analisis unsur konstituen, struktur kalimat, dan tipe kalimat.
2. Kajian Teori
a. Lagu Anak
Lagu atau nyanyian (KBBI , 1995 : 552) merupakan sesuatu yang universal, bahkan menjadi ‘kebutuhan’ sehari-hari di semua kalangan. Baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun orang tua membutuhkan lagu sebagai sarana hiburan. Sejak dalam kandungan anak sudah diperdengarkan lagu-lagu yang diharapkan mampu meningkatkan kecerdasan mereka. Usia prasekolah menjadi masa-masa bagi mereka untuk lebih banyak menyanyi.
Lagu-lagu anak selalu diperdengarkan dan diajarkan di masa PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini/ prasekolah). Lagu-lagu seperti ‘ Bangun Tidur’, ‘Balonku’, Cicak-cicak di Dinding’, dan masih banyak lagu-lagu anak lainnya menjadi bagian dari pembelajaran di sekolah mereka. Namun demikian, saat ini lagu-lagu tersebut sudah tidak digemari bahkan kurang popular di mata anak-anak. Mereka lebih mengenali ‘Bangun Tidur’-nya Mbah Surip daripada lagu ‘Bangun tidur kuterus mandi/ tidak lupa menggosok gigi/ dan seterusnya’.
Seperti yang sudah dikemukakan pada bagian awal makalah ini, lagu anak saat ini memang sangat jarang. Bahkan anak-anak lebih asik menyanyikan lagu-lagu pop remaja. Lagu “Ketahuan Pacaran Lagi”, misalnya, seolah menjadi lagu wajib nasional di semua kalangan termasuk anak-anak balita. Padahal, mereka belum mengerti makna kata “pacaran”. Hal ini sungguh merupakan hal yang memprihatinkan mengingat masa-masa mereka adalah “masa emas” yang sangat mungkin akan mempengaruhi kehidupan mereka di masa mendatang.
Beberapa penelitian mengenai pengaruh musik bagi kehidupan telah sering dilakukan, seperti ketika hamil ibu-ibu dianjurkan mengenalkan musik klasik pada janinnya untuk merangsang dan meningkatkan kecerdasan calon bayinya. Selain itu musik juga berpengaruh pada IQ danEQ. Perkembangan Intelegent Quotien (IQ) dan Emotional Quotien (EQ) berkembang dengan luar biasa, sekitar 80% lebih besar dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik. Tentu saja, musik yang dimaksud di sini musik yang punya irama teratur dan nada-nada yang teratur pula (baca: klasik). Bukan nada-nada “miring”. Tingkat kedisiplinan anak yang sering mendengarkan musik juga lebih baik dibanding dengan anak yang jarang mendengarkan musik.
Penelitian lainnya, di luar negeri sebagian rumah sakit menggunakan lagu-lagu indah buat penyembuhan para pasiennya. Hal tersebut membuktikan, “ritme” sangat mempengaruhi jiwa manusia. Sedangkan “harmony”, sangat mempengaruhi roh. “Musik yang baik bagi kehidupan manusia adalah musik yang seimbang antara beat, ritme, dan harmony”, ujar Ev. Andreas Christanday.’ (www. gokilstory.blogspot.com).
b. Kalimat
Kalimat adalah satuan sintaksis yang disusun dari konstituen dasar, yang biasanya berupa klausa, dilengkapi dengan konjungsi bila diperlukan, serta disertai dengan intonasi final (Chaer, 1994:240). Putrayasa (2008 : 20) berpendapat bahwa kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik atau turun.
Adapun Kridalaksana (1993, 92) mendefinisikan kalimat sebagai satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara actual maupun potensial terdiri dari klausa. Dengan demikian, berdasarkan beberapa definisi di atas dalam kalimat dikenal istilah frase, klausa, dan konstituen.
Frasa atau frase menurut Gorys Keraf (1999: 175) adalah kesatuan yang terdiri atas dua kata atau lebih yang masing-masingnya mempertahankan makna dasar katanya, sementara gabungan itu menghasilkan suatu relasi tertentu, dan tiap kata pembentuknya tidak bisa berfungsi sebagai subjek dan predikat dalam konstruksi itu. Adapun menurut Kridalaksana (1993 : 59) frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif; gabungan itu dapat rapat, dapat renggang; misalnya gunung tinggi adalah frase karena merupakan konstruksi nonpredikatif; konstruksi ini berbeda dengan gunung itu tinggi yang bukan frase karena bersifat predikatif. Namun dalam makalah ini menggunakan istilah frase yang dikemukakan oleh Putrayasa. Frase adalah kelompok kata yang menduduki suatu fungsi dalam kalimat (Putrayasa, 2008 : 3).
Klausa adalah satuan gramatika berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari subyek dan predikat dan mempunyai potensi untuk menjadi kalimat ( Kridalaksana, 1993 : 2010). Dalam kajian sintaksis, klausa merupakan unsure dasar pembentuk kalimat. Akan tetapi, ada kalimat-kalimat yang tidak terbentuk dari klausa. Kalimat ini disebut kalimat minor ( Putrayasa, 2008 : 12). Contoh : Selamat siang!, Pergi!, Ayo!, dan sebagainya.
1) Konstituen
Konstituen adalah satuan-satuan yang membentuk suatu konstruksi (Alwi, et al, 1998). Dengan kata lain, konstituen adalah kelompok kata (frase) merupakan susunan kata-kata yang berfungsi dalam struktur kalimat (Burton-Robert, 1997).
Analisis structural menetapkan pola hubungan konstituen yang memperlihatkan secara lengkap hierarki konstituen –konstituen kalimat itu. Salah satu cara untuk menyatakan struktur konstituen kalimat adalah dengan menggunakan diagram. Contoh kalimat : ‘Banyak orang kurang menyadari pentingnya kebersihan’ dapat diurakan struktur serta hierarki konstituennya sebagai berikut
Pada bagan tersebut tampak bahwa kalimat: ‘ Banyak orang kurang menyadari pentingnya kebersihan’ mempunyai tiga konstituen berupa frase: Banyak orang, kurang menyadari ,pentingnya kebersihan. Tiap konstituen terdiri atas dua konstituen kecil, yaitu banyak dan orang untuk banyak orang, kurang dan menyadari untuk kurang menyadari, serta pentingnya dan kebersihan untuk pentingnya kebersihan.
Frase Banyak orang, kurang menyadari, pentingnya kebersihan pada bagan tersebut merupakan konstituen langsung kalimat Banyak orang kurang menyadari pentingnya kebersihan karena merupakan konstituen yang setingkat lebih kecil daripada kostruksi kalimat tersebut. Kata Banyak, orang, kurang, menyadari ,pentingnya, kebersihan merupakan konstituen kalimat Banyak orang kurang menyadari pentingnya kebersihan, tetapi bukan konstituen langsung karena terdapat satuan atau konstituen antara, yaitu frase Banyak orang, kurang menyadari, dan pentingnya kebersihan.
2) Struktur Kalimat Dasar
Struktur mengacu pada organisasi pelbagai unsur bahasa yang masing-masing merupakan pola bermakna (Kridalaksana, 1993 : 203). Kalimat dasar adalah kalimat yang mengandung (1) satu klausa; (2) unsur-unsurnya lengkap; (3) susunan unsur-unsurnya menurut urutan yang paling umum, dan (4) tidak mengandung pertanyaan atau pengingkaran (Putrayasa, 2008 :25).
Dalam bahasa Indonesia terdapat lima struktur atau pola kalimat dasar, yaitu : (1) KB +KB ( Kata Benda + Kata Benda);
(2) KB +KK ( Kata Benda + Kata Kerja) ;
(3) KB + KS ( Kata Benda + Kata Sifat);
(4) KB +KB ( Kata Benda + Kata Bilangan); dan
(5) KB + K Dep ( Kata Benda + Kata Depan).
Keraf (1999 : 190) menyebut pola (1), (2), dan (3) sebagai pola utama, sedangkan pola kelima disebut juga pola tambahan atau kalimat adverbial. Pada pola di atas , kata benda pertama menunjukkan subjek, sedangkan kata benda kedua, kata kerja, kata sifat, kata bilangan, dan kata depan sebagai predikat kalimat.
Sebuah kalimat luas selalu dapat dipulangkan kepada pola-pola dasar yang dianggap menjadi dasar pembentukan kalimat luas itu. Namun demikian, struktur kalimat atau pola–pola dasar kalimat ini tidak mempersoalkan masalah inti kalimat, tetapi kelas kata mana yang membentuk kalimat inti itu. Kelas kata pada hakikatnya menurut Keraf (1999 : 190) dibagi empat, yaitu kata benda, kata kerja, kata sifat, dan kata tugas. Menurutnya (1999, 98) kata bilangan termasuk dalam subkelas Adjektiva.
3) Tipe Kalimat
Tipe kalimat yang dimaksud dalam makalah ini adalah jenis kalimat berdasarkan klausanya, yakni kalimat tunggal dan kalimat majemuk (Djajasudarma, 1993). Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri dari satu klausa bebas ( Kridalaksana, 1993 : 95) atau kalimat yang hanya mengandung sebuah pola kalimat (Keraf, 1999 : 194). Jadi, unsur inti kalimat tunggal ialah subjek dan predikat (Rusyana dan Samsuri, 1976). Dalam kalimat tunggal tentu saja terdapat semua unsur wajib yang diperlukan. Di samping itu, tidak mustahil ada pula unsur manasuka seperti keterangan tempat, waktu dan alat. Dengan demikian, kalimat tunggal tidak selalu dalam wujud yang pendek (kalimat inti) melainkan juga dalam wujud yang panjang ( kalimat luas)).
Berdasarkan predikatnya didapatkan tipe kalimat sebagai berikut.
(1) Kalimat Intransitif
Kalimat yang predikatnya kata kerja intransitive atau tidak menghendaki objek (Keraf, 1999 : 191). Lebih lanjut Putrayasa ( 2008 : 27) mengemukakan bahwa kalimat intransitif adalah kalimat yang tidak berobjek dan tidak berpelengkap hanya memiliki dua unsure fungsi wajib, yaitu subjek dan predikat. Contoh : ‘Anjar sedang berbelanja’; ‘ Rara belum datang’; ‘Sadat biasa berjalan kaki’, dan sebagainya.
(2) Kalimat Ekatransitif
Kalimat ekatransitif adalah kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap dan mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat, dan objek (Putrayasa, 2008 : 29). Contoh : ‘Pemerintah akan memasok semua kebutuhan lebaran’; ‘Presiden merestui pembentukan pansus Bank Century’ : ‘Dia memberangkatkan kereta api terlalu cepat’
(3) Kalimat Dwitransitif
Kalimat dwitransitif adalah kalimat yang berobjek sekaligus berpelengkap sehingga memiliki empat unsur, yakni subjek, predikat, objek, dan pelengkap. Contoh : “ Harjo sedang mencarikan adiknya pekerjaan” . Pada kalimat ini, ada dua nomina yang terletak di belakang verba predikat. Kedua nomina itu masing-masing berfungsi sebagai objek dan pelengkap. Objek dalam kalimat aktif berdiri langsung di belakang verba tanpa preposisi, dan dapat dijadikan subjek dalam kalimat pasif. Sebaliknya pelengkap dalam kalimat ditransitif itu berdiri langsung di belakang objek jika objek itu ada. Kata adiknya adalah objek dan pekerjaan adalah pelengkap.
(4) Kalimat Pasif
Pengertian aktif dan pasif dalam kalimat menyangkut beberapa hal, yaitu (a) macam verba yang menjadi predikat, (b) subjek dan objek, (c) bentuk verba yang dipakai (Putrayasa, 2002). Kalimat aktif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai pelaku/actor, sedangkan kalimat pasif adakah kalimat yang objeknya berperan sebagai penderita (Cook dalam Putrayasa, 2008 : 33). Contoh : ‘Mas Gandha mencium pipi anak itu’ ( Kalimat aktif) ; ‘Pipi anak itu dicium oleh Mas Gandha’ (kalimat pasif).
(5) Kalimat Berpredikat Adjektival
Dalam bahasa Indonesia dikenal pula predikat berupa adjectival atau frase adjektiva. Contoh : Perbuatannya itu tidak benar; Sugik sakit; Alasannya tidak masuk akal, dan sebagainya.
(6) Kalimat Berpredikat Nominal
Dalam bahasa Indonesia dikenal predikat berupa nomina, pronominal, atau frase nominal. Kalimat ini disebut kalimat ekuatif. Pada kalimat ekuatif , frase nominal yang pertama itu subjek, sedangkan yang kedua predikat. Akan tetapi, jika frase nominal yang pertama dibubuhi partikel –lah, frase nominal yang pertama itu menjadi predikat, sedangkan frase nominal kedua menjadi subjek ( Alwi, et. al; Putrayasa, 2002). Contoh : ‘Ahmad guru say’a (Ahmad = S; guru saya =P); akan tetapi pada kalimat ‘Ahmadlah guru saya ( Ahmadlah =P; guru saya = S).
(7) Kalimat Berpredikat Numeral
Contoh kalimat dengan predikat frase numeral : Cucunya banyak, Tabungannya hanya sedikit; Anaknya dua; dan sebagainya.
(8) Kalimat Berpredikat Frase Preposisional
Contoh kalimat berpredikat frase preposisional; ‘ Adik di rumah; Abik ke pasar; Ayahnya dari Mekkah.
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih (Verhaar, 1996 : 275). Adapun Kridalaksana (1993 : 94) mendefinisikan kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri atas beberapa klausa bebas. Contoh : ‘Zahra ingin bersekolah di Jerman, tetapi belum mendapat jawaban dari pihak sponsor’. Kalimat ini terdiri atas dua klausa yakni : Zahra ingin bersekolah di Jerman dan Zahra belum mendapat jawaban dari pihak sponsor (permohonannya).
Ada beberapa jenis kalimat majemuk, yakni : (a) majemuk setara; (b) majemuk rapatan; (c) majemuk bertingkat; dan (d) majemuk campuran.
(a) Majemuk setara , adalah kalimat yang terdiri dari klausa-klausa bebas (Kridalaksana, 1993 : 94). Contoh : Matahari terbit di ufuk timur, margasatwa mulai mencari mangsanya, dan petani-petani berangkat ke ladang. Kalimat ini terdiri atas tiga klausa yang ditandai dengan koma.
(b) Majemuk rapatan, adalah kalimat yang terdijadi dari penggabungan beberapa kalimat tunggal yang unsur-unsurnya sama dirapatkan atau dituliskan sekali saja. Contoh : Hotel itu dirobohkan, dibangun, dan
S P1 P2
direnovasi kembali selama bertahun tahun.
P3 K
(c) Majemuk bertingkat, adalah kalimat yang mengandung dua pola kalimat atau lebih yang tidak sederajat. Salah satu pola menduduki fungsi utama kalimat, yang lazimnya disebut sebagai induk kalimat, sedangkan pola yang lain yang lebih rendah kedudukannya disebut anak kalimat (Keraf, 1999 : 200). Contoh : Saat masyarakat kelas bawah meresahkan mahalnya sembako, pemerintah malah membagi-bagikan mobil super mewah ke pada para pejabatnya. Saat masyarakat kelas bawah meresahkan mahalnya sembako = Anak kalimat; pemerintah malah membagi-bagikan mobil super mewah ke pada para pejabatnya = Induk kalimat.
(d) Majemuk campuran, adalah gabungan antara beberapa pola kalimat majemuk. Contoh : Saat masyarakat kelas bawah meresahkan mahalnya sembako, pemerintah malah membagi-bagikan mobil super mewah ke pada para pejabatnya dan sibuk menghitung kenaikan gajinya. Kalimat tersebut merupakan gabungan KMS dan KMB.
c. Kerangka Pikir
Kerangka pikir dalam pengerjaan makalah ini adalah sebagai berikut.
C. Metode Kajian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, karena temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya ( Strauss, Anselm dan Juliet Corbin, 2009 : 4). Kajian teori untuk menganalisis data menggunakan teori analisis kalimat yang dikemukakan oleh Putrayasa dalam bukunya Analisis Kalimat. Tahap pertama menanskripsikan lima lagu-lagu anak tersebut; tahap kedua menguraikan setiap lagu berdasarkan kalimat-kalimat; tahap ketiga menganalisis tiap kalimat tersebut sesuai konstituen, struktur, dan tipe kalimat; dan tahap akhir membuat kesimpulan.
D. Pembahasan
1. Analisis Unsur Konstituen dalam Lagu-lagu Anak
a. Lagu Aku Seorang Kapiten
Syair lagu Aku Seorang Kapiten adalah sebagai berikut.
Aku seorang Kapiten /mempunyai pedang panjang / Kalau berjalan prok-prok prok/ Aku seorang Kapiten. Jika diuraikan kalimat ini terdiri atas dua kalimat, yakni : Aku seorang Kapiten mempunyai pedang panjang// dan Kalau berjalan prok-prok prok, aku seorang Kapiten.
Analisis konstituennya adalah sebagai berikut.
1) Aku seorang Kapiten mempunyai pedang panjang
Pada bagan tersebut tampak bahwa kalimat : Aku seorang Kapiten mempunyai pedang panjang memiliki dua konstituen berupa frase : Aku seorang Kapiten dan mempunyai pedang panjang. Tiap-tiap konstituen memiliki dua konstituen yang lebih kecil, yaitu Aku dan seorang Kapiten untuk Aku seorang Kapiten, serta mempunyai dan pedang panjang untuk mempunyai pedang panjang. Konstituen seorang kepiten memiliki dua konstituen bawahan, yakni seorang dan kapiten. Adapun konstituen pedang panjang juga memiliki dua konstituen bawahan, yakni pedang dan panjang.
2) Kalau berjalan prok-prok-prok, aku seorang kapiten
b. Lagu Balonku
Syair lagu Balonku adalah sebagai berikut. Balonku ada lima/ Rupa-rupa warnanya/ Hijau, kuning, kelabu merah muda dan biru/ Meletus balon hijau DOR!/ Hatiku sangat kacau/ Balonku tinggal empat / Kupegang erat-erat.
1)
2)
3)
4)
c. Lagu Bangun Tidur
Syair lagu Bangun Tidur adalah sebagai berikut.
/Bangun tidur kuterus mandi/ Tidak lupa menggosok gigi/ Habis mandi kutolong ibu/ Membersihkan tempat tidurku/.
Jika diuraikan , syair tersebut terbagi atas dua kalimat, yakni : ‘Bangun tidur keterus mandi, tidak lupa menggosok gigi’; dan ‘Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku’.
Adapun analisis konstituennya adalah sebagai berikut.
1) Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi
`2)
d. Lagu Bintang Kecil
Syair lagu Bintang Kecil adalah sebagai berikut.
/Bintang kecil/ di langit yang tinggi/ Amat banyak, menghias angkasa/
Aku ingin,/ terbang dan menari / jauh tinggi ke tempat kau berada//.
Syair lagu di atas bila diuraikan akan menjadi 2 kalimat, yakni : ‘ Bintang kecil di langit yang tinggi, amat banyak menghias angkasa; dan Aku ingin terbang dan menari ke tempat kau berada.
Analisis konstituennya adalah sebagai berikut.
1)
2) Aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada.
e. Si Kancil Nakal
Syair lagu Si Kancil Nakal adalah sebagai berikut. “Si Kancil amat nakal /Suka mencuri timun / Ayo lekas dikejar/ Jangan diberi ampun/”
Jika diurakan, lagu tersebut akan menjadi dua kalimat, yakni : Si Kancil anak nakal, suka mencuri timun; dan Ayo lekas dikejar/ Jangan diberi ampun.
Adapun analisis konstituennya adalah sebagai berikut.
1) Si Kancil amat nakal, suka mencuri timun
2)
2. Analisis Struktur Kalimat dalam Lagu Anak
a. Lagu Aku Seorang Kapiten
Struktur kalimat dalam lagu Aku Seorang Kapiten adalah sebagai berikut.
1) Aku seorang Kapiten mempunyai pedang panjang. Kalimat ini terdiri atas dua kalimat dasar, yakni Aku seorang Kapiten dan Aku mempunyai pedang panjang. Jika dipolakan (1) KB + KB (Kata Benda + Kata Benda); dan KB + KK + KB
2) Kalau berjalan prok-prok-prok, aku seorang Kapiten. Pola kalimat ini adalah Ket. Cara + KB + KB; adapun kalimat dasarnya tetaplah Aku Seorang Kapiten ; KB +KB (Kata Benda + Kata Benda)
b. Lagu Balonku
Struktur kalimat dasar lagu Balonku adalah sebagai berikut.
1) Balonku ada lima ; pola kalimat ini adalah KB + K Bil ( Kata Benda + Kata Bilangan).
2) Rupa-rupa warnanya, hijau, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Pola dasar kalimat ini dapat dimungkinkan berupa “Balonku rupa-rupa warnanya” ; sehingga pola/ strukturnya : KB + K Bil
3) Meletus Balon Hijau, Hatiku sangat kacau. Kalaimat ini terdairi atas dua pola dasar yakni Balon hijau meletus ( kalimat aslinya berupa kalimat inverse) dan Hatiku sangat kacau; sehingga polanya (1) KB + KK ( Kata Benda + Kata Kerja) dan (2) KB + K S ( Kata Benda + Kata Sifat).
4) Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat. Kalimat ini terdiri atas dua pola kalimat dasar, yakni Balonku tinggal empat dan Ku pegang erat-erat; polanya adalah (1) KB + K Bil , dan (2) KB + KK + KS
c. Lagu Bangun Tidur
Struktur kalimat dasar dalam lagu Bangun Tidur adalah sebagai berikut.
1) Bangun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi. Kalimat dasar ini adalah “Aku bangun; Aku mandi, dan Aku menggosok gigi. Adapun struktur/ pola kalimatnya adalah: (1) KB + KK; (2) KB + KK; dan (3) KB + KK +KB.
2) Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku. Kalimat dasarnya : Ku tolong ibu dan Aku membersihkan tempat tidurku. Jadi pola/struktur kalimatnya adalah (1) KB + KK + KB; (2) KB + KK + KB.
d. Lagu Bintang Kecil
Struktur kalimat dasar lagu Bintang Kecil adalah sebagai berikut.
1) Bintang kecil di langit yang tinggi, amat banyak menghias angkasa. Kalimat ini terdiri atas dua kalimat dasar, yakni: Bintang kecil di langit ; dan Bintang kecil menghias angkasa. Pola/struktur kalimat ini adalah (1) KB + K Dep ( Kata Benda + Kata Depan); (2) KB + KK + KB.
2) Aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada. Kalimat dasarnya adalah : “Aku ingin terbang”; “Aku ingin menari”; dan “ Kau berada”. Pola/ struktur kalimatnya adalah : (1) KB + KK; (2) KB + KK; dan (3) KB + KK.
e. Lagu Si Kancil
Struktur kalimat dasar lagu Si Kancil adalah sebagai berikut.
1) Si Kancil amat nakal, suka mencuri timun. Kalimat dasarnya adalah : “ Si kancil amat nakal ; dan “ Si kancil suka mencuri timun. Pola/struktur kalimatnya adalah : (1) KB + KS , dan (2) KB + KK + KB.
2) Ayo lekas dikejar, jangan diberi ampun. Pola kalimat dasarnya adalah Si kancil dikejar; dan Si kancil jangan diberi ampun. Adapun strukturnya adalah : (1) KB + KK, dan (2) KB + n KK + KS ( Kata Benda + negasi Kata Kerja + Kata sifat
3. Tipe Kalimat dalam Lagu Anak
a. Lagu Aku seorang Kapiten
Tipe kalimat dalam lagu Aku Seorang Kapiten adalah sebagai berikut.
1) Aku seorang Kapiten mempunyai pedang panjang. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk perluasan Subyek. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat transitif.
2) Kalau berjalan prok-prok-prok, aku seorang Kapiten. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk perluasan Keterangan (cara) atau disebut juga kalimat majemuk bertingtkat klausa pertama; ‘kalau berjalan prok-prok-prok’ sebagai anak kalimat; sedangkan klausa kedua: ‘aku seorang Kapiten sebagai induk kalimat. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat berpredikat Nominal.
b. Lagu Balonku
Tipe kalimat dalam lagu Balonku adalah sebagai berikut.
1) Balonku ada lima. Kalimat ini tergolong Kalimat Tunggal. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat numeral.
2) Rupa-rupa warnanya, hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk perluasan Keterangan. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat berpredikat Numeral.
3) Meletus balon hijau , hatiku sangat kacau. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk perluasan keterangan sebab-akibat. Adapun tipe predikatnya tergolong kalimat berpredikat Adjektival.
4) Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk perluasan keterangan sebab-akibat. Adapun tipe predikatnya tergolong kalimat berpredikat intransitive.
c. Lagu Bangun Tidur
Tipe kalimat dalam lagu Bangun Tidur adalah sebagai berikut.
1) Bangun tidur kuterus mandi tidak lupa menggosok gigi. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk Setara. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat intransitive dan transitif. Pada klausa pertama : Aku bangun/ aku mandi adalah berpredikat intransitive; sedangkan Aku menggosok gigi adalah berpredikat transitif.
2) Habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk Setara. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat transitif.
d. Lagu Bintang kecil
Tipe kalimat dalam lagu Bintang Kecil adalah sebagai berikut.
1) Bintang kecil di langit yang biru amat banyak menghias angkasa. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk Bertingkat. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat transitive karena kalimat intinya adalah “ Bintang kecil menghias angkasa”.
2) Aku ingin terbang dan menari, jauh tinggi ke tempat kau berada. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk Campura. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat intransitif.
e. Lagu Si Kancil
Tipe kalimat dalam lagu Si Kancil adalah sebagai berikut.
1) Si Kancil amat nakal suka mencuri timun. Kalimat ini tergolong Kalimat Tunggal. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat transitif.
2) Ayo lekas dikejar jangan diberi ampun. Kalimat ini tergolong Kalimat Majemuk Setara. Adapun berdasarkan tipe predikatnya kalimat ini tergolong kalimat pasif.
E. Penutup
1. Kesimpulan
Lagu-lagu anak yang saat ini keberadaannya sedang dilanda krisis. Karena ditujukan untuk anak-anak, lagu-lagu anak syairnya sederhana dan tidak banyak agar mereka mudah menghafalnya. Lagu-lagu anak dapat dianalisis berdasarkan unsur-unsur kalimatnya. Berdasarkan analisis unsur konstituenya, lagu-lagu anak rata-rata dapat diuraikan menjadi konstituen-konstituen bawahan dari tiga konstituen sampai dengan lima konstituen bawahan.
Berdasarkan struktur kalimatnya, lagu-lagu anak memiliki struktur beragam. Ada struktur dasar KB + KB ; KB + KK; KB + K Bil; KB + KS; dan KB + K Dep. Kesemua struktur kalimat dasar tersebut ada pada lagu-lagu anak.
Adapun berdasarkan tipe kalimatnya, lagu-lagu anak memiliki dua tipe yakni kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Bentuk kalimat majemuknya pun beragam , mulai dari kalimat majemuk dengan perluasan subyek, keterangan, majemuk setara, bertingkat, maupun campuran. Berdasarkan jenis predikatnya lagu-lagu anak pun memiliki predikat beragam. Ada predikat nominal, numeral, adjectival, transitif, intransitive, maupun pasif.
2. Saran
Keberadaan lagu-lagu anak yang kian terpuruk memang cukup menarik untuk dikaji maupun ditelaah. Hal ini merupakan salah satu upaya untuk ‘sedikit’ menghidupkan kembali lagu-lagu anak. Tentunya telaah semacam ini bermanfaat tidak hanya dari segi teoritis, namun juga dari segi praktik. Untuk itu diharapkan telaah-telaah serupa akan lebih ‘marak’ dan kajiannya lebih mendalam lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, H. et.al. 1998. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Burton, Robert. 1997. Analizyng Sentences. New York : Longman.
Chaer. Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Depdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Gatiningsih. _________. Diksi dan Gaya Bahasa dalam lirik Lagu-lagu Anak Karya AT Mahmud. Skripsi : ums.ac.id.
Huda, Khoirul. 2004. Nilai-nilai dalam Tembang Dolanan Anak Jawa. Thesis: JIPTUMMP.
Keraf, G. 1999. Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia. Jakarta : Grasindo.
Kridalaksana, H. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Putrayasa, I.B. 2008. Analisis Kalimat. Bandung : Refika Aditama.
Rusyana dan Samsuri. 1976. Pedoman Penulisan Tata Bahasa Indonesia. Jakarta : Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Strauss, Anselm dan Juliet Corbin. 2009. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta : GM University Press.
// id. Wikibooks.org/ Lirik Lagu-lagu anak Indonesia//
// www. gokilstrory.blogspot.com//
ANALISIS KALIMAT DALAM LAGU-LAGU ANAK
( Tugas Individu Mata Kuliah Lingistik Umum
Dosen Pengampu Prof. Kisyani Laksono)
Oleh
Faiqotur Rosidah (09745005)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Maret, 2010
Pemilik blog ini adalah Faiqotur Rosidah, S.Pd. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMPN 3 Peterongan. Selamat datang dan bergabung dengan saya
Rabu, 21 April 2010
Selasa, 29 Desember 2009
mk landasan pembelajaran bahasa, Irene R
FAKTOR SOSIAL BUDAYA DALAM PEMEROLEHAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA
A. Pendahuluan
Fungsi Bahasa bahasa yang utama adalah sebagai alat komunikasi. Jika fungsi itu dikaitkan dengan budaya maka bahasa berfungsi sebagai sebagai sarana perkembangan kebudayaan, jalur penerus kebudayaan, dan inventaris ciri-ciri kebudayaan. Jika dikaitkan dengan kehidupan sosial, maka bahasa berfungsi sebagai bahasa nasional, yaitu lambang kebanggaan kebangsaan, lambang identitas bangsa, alat pemersatu, dan alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Sebagai bahasa kelompok, bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan interaksi sehari-hari dalam kelompok itu. Dari sisi perorangan, bahasa memiliki fungsi instrumental, menyuruh (regulatory), kepribadian, pemecahan masalah, dan khayal.
Dalam pemerolehan maupun pembelajaran bahasa, banyak teori-teori yang dikemukakan oleh ahli bahasa mengenai hal tersebut. Gardner dan Lambert (1972) mengemukaan bahwa penguasaan bahasa seseorang dipengaruhi oleh empat bagian utama, yaitu: (a) lingkup sosio-kultural, (b) perbedaan individual, (c) konteks pemerolehan bahasa, dan (d) out-comes belajar bahasa . Lingkup sosio-kultural sangat mempengaruhi variabel kognitif dan afektif pembelajaran bahasa. Variabel afektif mencakup sikap, motivasi, kecemasan bahasa, dan kepercayaan diri. Variabel kognitif mencakup intelegensi, bakat bahasa, dan strategi belajar bahasa.
Pandangan yang mampu mengakomodasi sociocultural-revolution dalam teori belajar dan pembelajaran dikemukakan oleh Lev Vigotsky. Ia mengatakan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Artinya, untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan cara menelusuri apa yang ada dibalik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal-usul tindakan sadarnya, dari interaksi sosial yang dilatari sejarah hidupnya (Moll & Greenberg, 1990).
Berdasarkan uraian-uraian di atas, begitu pentingnya pengaruh sosio-kultural dalam pemerolehan bahasa dan pengajaran bahasa inilah yang akan diurakaikan dalam tulisan ini. Adapun fokus kajian ini adalah mengenai sosio-budaya dan bahasa, sosio-budaya dalam pemerolehan bahasa kedua, dan aplikasinya dalam pembelajaran bahasa.
Dengan demikian jelaslah bahwa tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan faktor sosial budaya dan bahasa secara umum, factor sosio-budaya dalam pemerolehan bahasa kedua, serta aplikasi teori-teori sosio-budaya dalam bahasa dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa.
B. Faktor Sosiol Budaya dan Bahasa
1. Budaya: Definisi dan Teori
Budaya adalah sebuah cara hidup. Ia adalah konteks yang didalamnya kita ada berpiki, merasa, dan berhubungan dengan yang lain. Budaya juga bias didefinisikan sebagai gagasan, kebiasaan, ketrampilan seni dan piranti yang mencirikan kelompok orang dalam sebuah periode waktu tertentu.
Budaya adalah sebuah system aturan yang dinamis, eksplisit dan implisit, yang dibangun oleh kelompok-kelompok untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. Bagi setiap orang, budaya meneguhkan sebuah konteks perilaku kognitif dan efektif, sebuah model untuk eksistensi personal dan sosial.
Tampak jelas bahwa budaya, sebagai himpunan perilaku dan mode persepsi yang berurat akar, menjadi sangat penting dalam pembelajaran sebuah bahasa kedua. Bahasa adalah bagian dari budaya, dan budaya bagian dari bahasa. Baik linguis maupun intropolog menghasilkan setumpuk testimony untuk pengamatan ini ( Uber Grose, 2004; Scheter dan Bayley, 2002 ; Littlewood, 2001; Dlaska, 200; Hinenoya & Gatbonton; Matsumoto, 2000; Kubota, 1999; Robinson Stuart & Nocon, 1996; Scollon & Scollon, 1995).
Ekumenis terhadap budaya yakni melihat budaya-budaya tidak oposisional atau saling eklusif, tetapi lebih sebagai semacam corak dan warna yang meliputi sebuah spectrum yang lebar. Prospek untuk melihat budaya sebagai ‘ekumenis’ adalah sesuatu yang kontradiktif, ujar sparrow (2000, h. 750) yang kemudian melanjutkan, ‘kita jadi tak bisa mengajarkan pandangan yang diterima tentang budaya maupun menempatkan profesi kita dipasir apung relativitas moral.
2. Strereotipe atau generalaisasi
Bagaimana stereotipe membentuk/Milieu budaya kita membentuk pandangan dunia kita-weltanscauung kita-dalam sebuah cara sehingga realitas dianggap terlihat objectif melalui pola budaya kita sendiri,dan persepsi yang berbeda dilihat sebagai salah satu ‘asing’dan penyederhanaan berlebihanpun terjadi. Jika orang mengenali dan memahami pandangan-pandangan dunia yang berbeda.mereka biasanya mengadopsi sikap positif dan terbuka kepada perbedaan-perbedaan lintas budaya. Pandangan sempit terhadap perbedaan-perbedaan semacam itu sering berakibat pula pada dipertahankannya stereotipe-sebuah penyederhanaan berlebihan dan sepenuhnya asumsi. Sebuah stereotipe melekatkan karacteristik kelompok kepada tiap individu semata-mata berbasis keanggotaan budaya mereka.
Stereotipe mungkin akurat dalam menggambarkan anggota’tipikal dari sebuah budaya, tetapi ia tak akurat saat menggambarkan individu tertentu.semata-mata karena setiap orang unik dan seluruh karakteristik perilaku seseorang tak bisa diprediksi secara akurat secara pukul rata seperti itu.Menghakimi anggota sebuah budaya dengan sifat keseluruhan budaya sama saja dengan menghakimi sebelum waktunya dan salah menghakimi.stereotipe punya potensi merendahkan orang-orang dari budaya lain.Komentar Mark Twain tentang bahasa Prancis dan Jerman,sekalipun ditulis dengan semangat bercanda dan tak ada maksud jahat,bisa ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai penghinaan.
3. Sikap
Stereotipisasi biasanya menyiratkan semacam sikap terhadap budaya atau bahasa yang dibicarakan.sikap seperti semua aspek perkembangan kognisi dan afeksi pada manusia,berkembang awal pada masa kanak-kanak dan buah dari sikap orang tua dan rekan sebaya,kontak dengan orang-orang yang berbeda dalam banyak cara dan faktor-faktor afektif yang berinteraksi dalam pengalaman manusia.sikap-sikap ini membentuk sebagian dari persepsi seseorang akan dirinya ,orang lain,dan budaya dimana ia tinggal.
Studi ekstensif Gardner dan Lambert [1972] adalah upaya sistematis memeriksa efek sikap kepada pembelajaran bahasa.Tampaknya jelas bahwa para pembelajar bahasa kedua memetik manfaat dari sikap positif dan bahwa sikap negative mungkin menyebabkan melemahkan motivasi dan kemungkinan besar karena melemahnya masukan dari interaksi,kegagalan meraih kecakapan.Namun guru harus awas bahwa setiap orang memiliki sikap positif dan sikap negative.
4. Pemerolehan Budaya Kedua
Mengingat pembelajaran bahasa kedua mempunyai hubungan derajat tertentu pembelajaran budaya kedua, penting memahami apa yang kita maksudkan dengan proses pembelajaran budaya. Robinson-Stuart dan Nocon [1996] mempertahankan beberapa perspektif tentang pembelajaran budaya yang sudah kita lihat beberapa dasawarsa terakhir. Mereka mengomentari gagasan yang menyebutkan bahwa pembelajaran budaya adalah perjalanan dangan karpet ajaib menuju budaya lain,yang teraih sebagai produk samping otomatis dari pelatihan bahasa adalah konsepsi yang keliru. Pembelajaran budaya adalah sebuah proses penciptaan makna bersama diantara perwakilan-perwakilan budaya. Proses ini harus dijalani, proses pembelajaran yang berlangsung selama bertahun-tahun dalam pembelajaran bahasa. Dalam pembahasan ego bahasa,melibatkan pemerolehan sebuah identitas kedua. Penciptaan identitas baru ini berada dijantung pembelajaran budaya atau yang disebut akulturasi.
Kadang gangguan tersebut sedemikian berat,sehingga seseorang mungkin mengalami gegar budaya.Gegar budaya merujuk kepada fenomena yang berentang dari ketersinggungan ringan sampai panic dan krisis psikologis yang dalam. Gegar budaya diasosiasikan dengan perasaan keterasingan ,marah, bermusuhan, bimbang,
frustasi, gundah, sedih, kesepian, kangen rumah,dan bahkan sakit fisik.Orang-orang yang mengalami gegar budaya melihat baru dengan perasaan sengit dan berubah-ubah dari iba kepada diri sendiri dan marah kepada orang lain yang tak memahami mereka.
5. Jarak Sosial
Konsep jarak sosial muncul sebagai sebuah pengertian afektif untuk menjelaskan tempat pembelajaran budaya dalam pembelajaran bahasa kedua.Jarak sosial merujuk kepada pendekatan kognitif dan afektif dari dua budaya yang bertemu didalam diri seseorang.Jarak jelas dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan ketidakmiripan antara kedua budaya.John Schumann (1976 h136) menggambarkan jarak sosial terdiri atas parameter-parameter berikut: (1)Dominasi, (2)Integrasi, (3) Kekohesifan, dan
(4)Keserasian, (5) Kepermanenan
Hipotesis Schumann adalah bahwa makin besar jarak sosial antara dua budaya,makin besar kesulitan yang akan ditemui pembelajar saat belajar bahasa kedua.dan sebaliknya,makin kecil jarak sosial makin baik situasi pembelajaran bahasanya.
6. Mengajarkan kompetensi antar budaya
Sekalipun kebanyakan pembelajarbetul-betul dapat menemukan manfaat dalam pengalaman pembelajaran atau tinggal diwilayah lintas budaya,sejumlah orang mengalami kendala psikologis dan efek menghambat lainnya dari bahasa eketerasingan dalam proses pembelajaran bahasa kedua,terasing dari orang-orang dibudaya kampung halaman mereka,budaya sasaran,dan dari diri mereka sendiri.Saat mengajarkan sebuah bahasa asing kita perlu pekah pada kerapuhan murid dengan menggunakan teknik yang meningkatkan pemahaman budaya.
Sejumlah cara untuk merumuskan berbagai ketidakcocokan dalam standar norma semacam itu digambarkan dalam sebuah artikel provokatif karya Geert Hofstede(1986) yang menggunakan empat kategori konseptual untuk mempelajari norma-norma budaya lima puluh negara berbeda. Berikut penjabaran kategori masing-masing: (1) Individualisme adalah karakter sebuah budaya lawan dari kolektivisme; (2) Jarak kekuasaan adalah sebuah budaya sejauh mana orang-orang yang kurang berdaya dalam masyarakat menerima ketidaksetaraan dalam kekuasaan dan menganggapnya normal; (3) Penghindaran ketidakpastian adalah karakteristik sebuah budaya yang mendefinisikan sejauh mana orang-orang dalam budaya itu dibuat gugup oleh situasi yang tak bisa diduga; (4) Maskulinitas adalah karakteristik sebuah budaya yang merupakan lawan dari feminitas
7. Kebijakan dan politik bahasa
Pada saat kita memasuki paradikma baru dimana konsep penutur asli dan bukan asli menjadi kurang relevan,barangkali lebih tepat untuk berfikir mengenai tingkat kacakapan pengguna bahasa.Berbicara adalah satu dari keempat ketrampilan dan mungkin tak layak sekali untuk dijunjung menjadi criteria tunggal kecakapan. Maka bersama Kacru(2005), McKay(2002),dan yang lainnya, profesi ini terjalankan dengan mempertimbangkan kecakapan komunikatif seseorang yang mencakup empat ketrampilan. Para guru dengan bahasa apapun,terlepas dari keragaman bahasa Inggris mereka sendiri, kemudian bisa dinilai dengan adil dan pada gilirannya, yang terpenting adalah ilmu mengajar dan pengalaman mereka.
a. ESL dan EFL
Seperti halnya diperlihatkannya dalam pembahasannya diatas,kita melihat adanya pembauran yang semula masih kita sebut sebagai bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (ESL) dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing(EFL).Mempelajari bahasa Inggris di dalam sebuah budaya di mana bahasa Inggris dituturkan secara asli.
b. Imperialisme Linguistik dan Hak Bahasa
Salah satu permasalahan paling controversial untuk ditangani dalam penyebaran global EIL adalah sampai sejauh mana berkembang-biaknya bahasa Inggris sebagai medium pendidikan,perdagangan,dan pemerintahan telah menghalangi literasi penggunaan bahasa-bahasa ibu,telah mancegah kemajuan sosial dan ekonomi merela yang tak mempelajarinya,dan secara umum tak relevan dengan kebutuhan orang awam dalam kehidupan mereka sehari-hari atau di masa mendatang (Ricento,199)
c. Kebijakan bahasa dan debat ’Hanya bahasa Inggris’
Kita bisa mambayangkan bakal serunya perbedaan pendapat yang terjadi untuk membenarkan sebuah kebijakan bahasa tertentu untuk pendidikan. Pertikaian hebat system nilai hadir untuk mendapatkan keputusan puncak: kebinekaan linguistic, kemajemukan budaya,etnisitas,ras,kekuasaan,status,politik,ekonomi,dan daftarnya terus berlanjut.Dalam analisis final,”sejarah mengindifikasikan bahwa membatasi hak bahasa bisa memecah belah dan bisa menggiring kekecondongan segregasionis di dalam sebuah masyarakat.Pada saat yang sama,peraturan semacam itu jarang menghasilkan sebuah masyarakat padu yang hanya bicara dalam bahasa-bahasa yang dimandatkan.”(Thomas,1996,h 129)
8. Bahasa, pemikiran, dan budaya
Tak ada diskusi tentang variabel-variabel budaya dalam pemerolehan bahasa kedua yang lengkap tanpa pembahasan hubungan antara bahasa dan pemikiran.Kita menyaksikan dalam kasus pemerolehan bahasa pertama bahwa perkembangan kognitif dan perkembangan linguistic berjalan seiring,keduanya saling berinteraksi dan saling membentuk.Lazim teramati bahwa cara menyatakan sebuah ide atau fakta mempengarui cara kita merumuskan ide tersebut.Di sisi lain,banyak dari ide,permasalahan,penciptaan,dan penemuan kita melahirkan kebutuhan untuk kata-kata baru.Bisakah kita memisah-misahkan interaksi ini?
a. Membingkai Semesta Konseptual Kita
Kata-kata membentuk hidup kita.Dunia iklan adalah contoh telak penggunaan bahasa untuk membentuk,membujuk,dan mencegah.”kata-kata licin”contong mengagung-agungkan produk-produk yang sangat biasa kedalam golongan “tak tendingi”.”puncak”,”berkekuatan super”, dan “pilihan tepat”.Untuk kasus makanan yang sudah dilucuti sebagian besar kadar gizinya oleh proses manufacturing.Kita diberi tahu bahwa produk-produk ini kini “diperkaya”dan “dilindungi”.Seorang warga asing di Amerika Serikat pernah berkomentar bahwa di Amerika Serikat tak ada telur yang “kecil”yang ada hanyalah “medium”,”besar”,”ekstra besar”,dan “jumbo”.Eufemisme ini melimpah ruah dibudaya Amerika di mana beberapa pemikirantertentu ditabukan dan kata-kata tertentu berkonotasi sesuatu yang kurang diinginkan.
Pada tatanan wacana bahasa,kita akrab dengan daya bujuk sebuah pidato emosional atau novel yang ditulis dengan baik.Seberapa sering seorang orator yang berbakat menggiring opini dan pemikiran?atau sebuah editorial kuat menggerakkan seseorang bertindak atau berubah?Ini adalah contoh-contoh lazim pengaruh bahasa terhadap keadaan keadaan kognitif dan afektif kita.
b. Hipotesis Whorfian
Sebuah pertanyaan menggoda muncul dari pengamatan semacam itu.Apakah bahasa mencerminkan pandangan dunia tentang suatu budaya,atau apakah bahasa benar-benar membentuk pandangan dunia?Berangkat dari ide-ide Wilhelm van Humboldt(1767-1835),yang menyatakan bahwa bahasa membentuk weltanshauung,atau pandangan dunia seseorang,Edward Sapir dari Benjamin Whorf mengajukan sebuah hipotesis yang kini sudah diberi beberapa label alternatif:hipotesis Sapir-Whorf,hipotesis Whorfian,relativitas linguistic,atau Determinisme Linguistik,atau demi simpelnya,apa yang sekarang disebut sebagai Hipotesis Whorfian.
Kesimpulan paling valid untuk semua studi semacam itu adalah bahwa mungkin kiranya bicara tentang apapun dalam bahasa apapun selama si penutur bersedia menggunakan penyampaian tak langsung dalam derajat tertentu….Setiap bahasa alamiah menyediakan sebuah bahasa untuk bicara tentang bahasa lain,yaitu metabahasa,maupun sebuah perkakas yang sepenuhnya memadai untuk melakukan pengamatan jenis apa saja yang perlu dibuat tentang dunia.Jika demikian kasusnya,setiap bahasa alamiah pastilah sebuah system yang sangat kaya yang siap membuat para penuturnya mengatasi kecenderungan yang ada.Maka sekalipun beberapa aspek bahasa tampaknya memberi kerangka piker kognitif potensial(misalnya,dalam bahasa Inggris,passive voice,system tense,”kata-kata licin”, dan item-item leksikal)kita juga bisa mengenali bahwa melalui bahasa dan budaya,sejumlah property universal mengikat kita bersama di satu dunia.Belajar berfikir dalam bahasa lain mungkin mensyaratkan penguasaan bahasa itu secara memadai,tetapi pada umumnya pembelajar bahasa kedua tak perlu belajar berfikir dari awal lagi.Seperti dalam setiap pengalaman pembelajaran yang lain,pembelajaran bahasa kedua bisa memanfaatkan kegunaan positif pengalaman-pengalaman sebelumnya untuk memudahkan proses pembelajaran dengan mempertahankanapa yang valid dan berharga untuk pembelajaran budaya kedua dan pembelajaran bahasa kedua.
9. Budaya di kelas bahasa
Dalam bagian sebelumnya sejumlah aplikasi isu budaya telah berhasil masuk kekelas bahasa.Salah satu sumber bantuan terbaik untuk mengarahkan anda lebih maju dalam menginjeksikan budaya kedalam kelas anda tersedia dalam Crossing Cultures in the Language Classroom karya DeCapua dan Wiltergerst (2004).Dalam panduan praktis untuk para guru ini,kedua penulis menyediakan pelatihan langsung dalam merancang pelajaran dan aktivitas dalam pengertian pendefinisian budaya,kolektivisme dan individualisme,gegar budaya,atribut budaya komunikasi nonverbal,peran sosial,dan komunikasi prakmatis.
C. Penutup
Berdasarkan uraian-uraian di atas antara factor-faktor sosial dan budaya sangat mempengaruhi pemerolehan mapun pembelajaran bahasa. Jarak sosial seperti dominasi, integrasi, kekohesifan, keserasian, kepermanenan mempengaruhi terhadap situasi pembelajaran bahasa yang baik dan buruk. Adapun budaya kita untuk membuat streretipe maupun generalisai terhadap orang-orang pada bangsa-bangsa tertentu bias menjadi faktor penghambat ataupun pendorong dalam pembelajaran bahasa.
Dengan demikian, baik pembelajar maupun guru bahasa kedua perlu memahami perbedaan-perbedaan budaya, untuk mengakui secara terbuka bahwa tidak ada orang yang sama. Sebagai guru kita harus berjuang memahami identitas-identitas pembelajar kita dalam hal latar belakang soial budaya mereka.
Buku Sumber
Brown, H. Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Pearson Education, Inc. (Terjemahan Noor Cholis dan Yusi Avianto).
FAKTOR SOSIAL BUDAYA DALAM PEMEROLEHAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA
( Tugas Mata Kuliah Landasan Pembelajaran Bahasa
Dosen Pengampu Dr. Irene Risakotta, M. Pd)
Oleh
Faiqotur Rosidah (09745005)
Sulistiyani (09745004)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Desember, 2009
A. Pendahuluan
Fungsi Bahasa bahasa yang utama adalah sebagai alat komunikasi. Jika fungsi itu dikaitkan dengan budaya maka bahasa berfungsi sebagai sebagai sarana perkembangan kebudayaan, jalur penerus kebudayaan, dan inventaris ciri-ciri kebudayaan. Jika dikaitkan dengan kehidupan sosial, maka bahasa berfungsi sebagai bahasa nasional, yaitu lambang kebanggaan kebangsaan, lambang identitas bangsa, alat pemersatu, dan alat perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Sebagai bahasa kelompok, bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi dan interaksi sehari-hari dalam kelompok itu. Dari sisi perorangan, bahasa memiliki fungsi instrumental, menyuruh (regulatory), kepribadian, pemecahan masalah, dan khayal.
Dalam pemerolehan maupun pembelajaran bahasa, banyak teori-teori yang dikemukakan oleh ahli bahasa mengenai hal tersebut. Gardner dan Lambert (1972) mengemukaan bahwa penguasaan bahasa seseorang dipengaruhi oleh empat bagian utama, yaitu: (a) lingkup sosio-kultural, (b) perbedaan individual, (c) konteks pemerolehan bahasa, dan (d) out-comes belajar bahasa . Lingkup sosio-kultural sangat mempengaruhi variabel kognitif dan afektif pembelajaran bahasa. Variabel afektif mencakup sikap, motivasi, kecemasan bahasa, dan kepercayaan diri. Variabel kognitif mencakup intelegensi, bakat bahasa, dan strategi belajar bahasa.
Pandangan yang mampu mengakomodasi sociocultural-revolution dalam teori belajar dan pembelajaran dikemukakan oleh Lev Vigotsky. Ia mengatakan bahwa jalan pikiran seseorang harus dimengerti dari latar sosial-budaya dan sejarahnya. Artinya, untuk memahami pikiran seseorang bukan dengan cara menelusuri apa yang ada dibalik otaknya dan pada kedalaman jiwanya, melainkan dari asal-usul tindakan sadarnya, dari interaksi sosial yang dilatari sejarah hidupnya (Moll & Greenberg, 1990).
Berdasarkan uraian-uraian di atas, begitu pentingnya pengaruh sosio-kultural dalam pemerolehan bahasa dan pengajaran bahasa inilah yang akan diurakaikan dalam tulisan ini. Adapun fokus kajian ini adalah mengenai sosio-budaya dan bahasa, sosio-budaya dalam pemerolehan bahasa kedua, dan aplikasinya dalam pembelajaran bahasa.
Dengan demikian jelaslah bahwa tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan faktor sosial budaya dan bahasa secara umum, factor sosio-budaya dalam pemerolehan bahasa kedua, serta aplikasi teori-teori sosio-budaya dalam bahasa dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa.
B. Faktor Sosiol Budaya dan Bahasa
1. Budaya: Definisi dan Teori
Budaya adalah sebuah cara hidup. Ia adalah konteks yang didalamnya kita ada berpiki, merasa, dan berhubungan dengan yang lain. Budaya juga bias didefinisikan sebagai gagasan, kebiasaan, ketrampilan seni dan piranti yang mencirikan kelompok orang dalam sebuah periode waktu tertentu.
Budaya adalah sebuah system aturan yang dinamis, eksplisit dan implisit, yang dibangun oleh kelompok-kelompok untuk menjamin kelangsungan hidup mereka. Bagi setiap orang, budaya meneguhkan sebuah konteks perilaku kognitif dan efektif, sebuah model untuk eksistensi personal dan sosial.
Tampak jelas bahwa budaya, sebagai himpunan perilaku dan mode persepsi yang berurat akar, menjadi sangat penting dalam pembelajaran sebuah bahasa kedua. Bahasa adalah bagian dari budaya, dan budaya bagian dari bahasa. Baik linguis maupun intropolog menghasilkan setumpuk testimony untuk pengamatan ini ( Uber Grose, 2004; Scheter dan Bayley, 2002 ; Littlewood, 2001; Dlaska, 200; Hinenoya & Gatbonton; Matsumoto, 2000; Kubota, 1999; Robinson Stuart & Nocon, 1996; Scollon & Scollon, 1995).
Ekumenis terhadap budaya yakni melihat budaya-budaya tidak oposisional atau saling eklusif, tetapi lebih sebagai semacam corak dan warna yang meliputi sebuah spectrum yang lebar. Prospek untuk melihat budaya sebagai ‘ekumenis’ adalah sesuatu yang kontradiktif, ujar sparrow (2000, h. 750) yang kemudian melanjutkan, ‘kita jadi tak bisa mengajarkan pandangan yang diterima tentang budaya maupun menempatkan profesi kita dipasir apung relativitas moral.
2. Strereotipe atau generalaisasi
Bagaimana stereotipe membentuk/Milieu budaya kita membentuk pandangan dunia kita-weltanscauung kita-dalam sebuah cara sehingga realitas dianggap terlihat objectif melalui pola budaya kita sendiri,dan persepsi yang berbeda dilihat sebagai salah satu ‘asing’dan penyederhanaan berlebihanpun terjadi. Jika orang mengenali dan memahami pandangan-pandangan dunia yang berbeda.mereka biasanya mengadopsi sikap positif dan terbuka kepada perbedaan-perbedaan lintas budaya. Pandangan sempit terhadap perbedaan-perbedaan semacam itu sering berakibat pula pada dipertahankannya stereotipe-sebuah penyederhanaan berlebihan dan sepenuhnya asumsi. Sebuah stereotipe melekatkan karacteristik kelompok kepada tiap individu semata-mata berbasis keanggotaan budaya mereka.
Stereotipe mungkin akurat dalam menggambarkan anggota’tipikal dari sebuah budaya, tetapi ia tak akurat saat menggambarkan individu tertentu.semata-mata karena setiap orang unik dan seluruh karakteristik perilaku seseorang tak bisa diprediksi secara akurat secara pukul rata seperti itu.Menghakimi anggota sebuah budaya dengan sifat keseluruhan budaya sama saja dengan menghakimi sebelum waktunya dan salah menghakimi.stereotipe punya potensi merendahkan orang-orang dari budaya lain.Komentar Mark Twain tentang bahasa Prancis dan Jerman,sekalipun ditulis dengan semangat bercanda dan tak ada maksud jahat,bisa ditafsirkan oleh beberapa orang sebagai penghinaan.
3. Sikap
Stereotipisasi biasanya menyiratkan semacam sikap terhadap budaya atau bahasa yang dibicarakan.sikap seperti semua aspek perkembangan kognisi dan afeksi pada manusia,berkembang awal pada masa kanak-kanak dan buah dari sikap orang tua dan rekan sebaya,kontak dengan orang-orang yang berbeda dalam banyak cara dan faktor-faktor afektif yang berinteraksi dalam pengalaman manusia.sikap-sikap ini membentuk sebagian dari persepsi seseorang akan dirinya ,orang lain,dan budaya dimana ia tinggal.
Studi ekstensif Gardner dan Lambert [1972] adalah upaya sistematis memeriksa efek sikap kepada pembelajaran bahasa.Tampaknya jelas bahwa para pembelajar bahasa kedua memetik manfaat dari sikap positif dan bahwa sikap negative mungkin menyebabkan melemahkan motivasi dan kemungkinan besar karena melemahnya masukan dari interaksi,kegagalan meraih kecakapan.Namun guru harus awas bahwa setiap orang memiliki sikap positif dan sikap negative.
4. Pemerolehan Budaya Kedua
Mengingat pembelajaran bahasa kedua mempunyai hubungan derajat tertentu pembelajaran budaya kedua, penting memahami apa yang kita maksudkan dengan proses pembelajaran budaya. Robinson-Stuart dan Nocon [1996] mempertahankan beberapa perspektif tentang pembelajaran budaya yang sudah kita lihat beberapa dasawarsa terakhir. Mereka mengomentari gagasan yang menyebutkan bahwa pembelajaran budaya adalah perjalanan dangan karpet ajaib menuju budaya lain,yang teraih sebagai produk samping otomatis dari pelatihan bahasa adalah konsepsi yang keliru. Pembelajaran budaya adalah sebuah proses penciptaan makna bersama diantara perwakilan-perwakilan budaya. Proses ini harus dijalani, proses pembelajaran yang berlangsung selama bertahun-tahun dalam pembelajaran bahasa. Dalam pembahasan ego bahasa,melibatkan pemerolehan sebuah identitas kedua. Penciptaan identitas baru ini berada dijantung pembelajaran budaya atau yang disebut akulturasi.
Kadang gangguan tersebut sedemikian berat,sehingga seseorang mungkin mengalami gegar budaya.Gegar budaya merujuk kepada fenomena yang berentang dari ketersinggungan ringan sampai panic dan krisis psikologis yang dalam. Gegar budaya diasosiasikan dengan perasaan keterasingan ,marah, bermusuhan, bimbang,
frustasi, gundah, sedih, kesepian, kangen rumah,dan bahkan sakit fisik.Orang-orang yang mengalami gegar budaya melihat baru dengan perasaan sengit dan berubah-ubah dari iba kepada diri sendiri dan marah kepada orang lain yang tak memahami mereka.
5. Jarak Sosial
Konsep jarak sosial muncul sebagai sebuah pengertian afektif untuk menjelaskan tempat pembelajaran budaya dalam pembelajaran bahasa kedua.Jarak sosial merujuk kepada pendekatan kognitif dan afektif dari dua budaya yang bertemu didalam diri seseorang.Jarak jelas dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan ketidakmiripan antara kedua budaya.John Schumann (1976 h136) menggambarkan jarak sosial terdiri atas parameter-parameter berikut: (1)Dominasi, (2)Integrasi, (3) Kekohesifan, dan
(4)Keserasian, (5) Kepermanenan
Hipotesis Schumann adalah bahwa makin besar jarak sosial antara dua budaya,makin besar kesulitan yang akan ditemui pembelajar saat belajar bahasa kedua.dan sebaliknya,makin kecil jarak sosial makin baik situasi pembelajaran bahasanya.
6. Mengajarkan kompetensi antar budaya
Sekalipun kebanyakan pembelajarbetul-betul dapat menemukan manfaat dalam pengalaman pembelajaran atau tinggal diwilayah lintas budaya,sejumlah orang mengalami kendala psikologis dan efek menghambat lainnya dari bahasa eketerasingan dalam proses pembelajaran bahasa kedua,terasing dari orang-orang dibudaya kampung halaman mereka,budaya sasaran,dan dari diri mereka sendiri.Saat mengajarkan sebuah bahasa asing kita perlu pekah pada kerapuhan murid dengan menggunakan teknik yang meningkatkan pemahaman budaya.
Sejumlah cara untuk merumuskan berbagai ketidakcocokan dalam standar norma semacam itu digambarkan dalam sebuah artikel provokatif karya Geert Hofstede(1986) yang menggunakan empat kategori konseptual untuk mempelajari norma-norma budaya lima puluh negara berbeda. Berikut penjabaran kategori masing-masing: (1) Individualisme adalah karakter sebuah budaya lawan dari kolektivisme; (2) Jarak kekuasaan adalah sebuah budaya sejauh mana orang-orang yang kurang berdaya dalam masyarakat menerima ketidaksetaraan dalam kekuasaan dan menganggapnya normal; (3) Penghindaran ketidakpastian adalah karakteristik sebuah budaya yang mendefinisikan sejauh mana orang-orang dalam budaya itu dibuat gugup oleh situasi yang tak bisa diduga; (4) Maskulinitas adalah karakteristik sebuah budaya yang merupakan lawan dari feminitas
7. Kebijakan dan politik bahasa
Pada saat kita memasuki paradikma baru dimana konsep penutur asli dan bukan asli menjadi kurang relevan,barangkali lebih tepat untuk berfikir mengenai tingkat kacakapan pengguna bahasa.Berbicara adalah satu dari keempat ketrampilan dan mungkin tak layak sekali untuk dijunjung menjadi criteria tunggal kecakapan. Maka bersama Kacru(2005), McKay(2002),dan yang lainnya, profesi ini terjalankan dengan mempertimbangkan kecakapan komunikatif seseorang yang mencakup empat ketrampilan. Para guru dengan bahasa apapun,terlepas dari keragaman bahasa Inggris mereka sendiri, kemudian bisa dinilai dengan adil dan pada gilirannya, yang terpenting adalah ilmu mengajar dan pengalaman mereka.
a. ESL dan EFL
Seperti halnya diperlihatkannya dalam pembahasannya diatas,kita melihat adanya pembauran yang semula masih kita sebut sebagai bahasa Inggris sebagai bahasa kedua (ESL) dan bahasa Inggris sebagai bahasa asing(EFL).Mempelajari bahasa Inggris di dalam sebuah budaya di mana bahasa Inggris dituturkan secara asli.
b. Imperialisme Linguistik dan Hak Bahasa
Salah satu permasalahan paling controversial untuk ditangani dalam penyebaran global EIL adalah sampai sejauh mana berkembang-biaknya bahasa Inggris sebagai medium pendidikan,perdagangan,dan pemerintahan telah menghalangi literasi penggunaan bahasa-bahasa ibu,telah mancegah kemajuan sosial dan ekonomi merela yang tak mempelajarinya,dan secara umum tak relevan dengan kebutuhan orang awam dalam kehidupan mereka sehari-hari atau di masa mendatang (Ricento,199)
c. Kebijakan bahasa dan debat ’Hanya bahasa Inggris’
Kita bisa mambayangkan bakal serunya perbedaan pendapat yang terjadi untuk membenarkan sebuah kebijakan bahasa tertentu untuk pendidikan. Pertikaian hebat system nilai hadir untuk mendapatkan keputusan puncak: kebinekaan linguistic, kemajemukan budaya,etnisitas,ras,kekuasaan,status,politik,ekonomi,dan daftarnya terus berlanjut.Dalam analisis final,”sejarah mengindifikasikan bahwa membatasi hak bahasa bisa memecah belah dan bisa menggiring kekecondongan segregasionis di dalam sebuah masyarakat.Pada saat yang sama,peraturan semacam itu jarang menghasilkan sebuah masyarakat padu yang hanya bicara dalam bahasa-bahasa yang dimandatkan.”(Thomas,1996,h 129)
8. Bahasa, pemikiran, dan budaya
Tak ada diskusi tentang variabel-variabel budaya dalam pemerolehan bahasa kedua yang lengkap tanpa pembahasan hubungan antara bahasa dan pemikiran.Kita menyaksikan dalam kasus pemerolehan bahasa pertama bahwa perkembangan kognitif dan perkembangan linguistic berjalan seiring,keduanya saling berinteraksi dan saling membentuk.Lazim teramati bahwa cara menyatakan sebuah ide atau fakta mempengarui cara kita merumuskan ide tersebut.Di sisi lain,banyak dari ide,permasalahan,penciptaan,dan penemuan kita melahirkan kebutuhan untuk kata-kata baru.Bisakah kita memisah-misahkan interaksi ini?
a. Membingkai Semesta Konseptual Kita
Kata-kata membentuk hidup kita.Dunia iklan adalah contoh telak penggunaan bahasa untuk membentuk,membujuk,dan mencegah.”kata-kata licin”contong mengagung-agungkan produk-produk yang sangat biasa kedalam golongan “tak tendingi”.”puncak”,”berkekuatan super”, dan “pilihan tepat”.Untuk kasus makanan yang sudah dilucuti sebagian besar kadar gizinya oleh proses manufacturing.Kita diberi tahu bahwa produk-produk ini kini “diperkaya”dan “dilindungi”.Seorang warga asing di Amerika Serikat pernah berkomentar bahwa di Amerika Serikat tak ada telur yang “kecil”yang ada hanyalah “medium”,”besar”,”ekstra besar”,dan “jumbo”.Eufemisme ini melimpah ruah dibudaya Amerika di mana beberapa pemikirantertentu ditabukan dan kata-kata tertentu berkonotasi sesuatu yang kurang diinginkan.
Pada tatanan wacana bahasa,kita akrab dengan daya bujuk sebuah pidato emosional atau novel yang ditulis dengan baik.Seberapa sering seorang orator yang berbakat menggiring opini dan pemikiran?atau sebuah editorial kuat menggerakkan seseorang bertindak atau berubah?Ini adalah contoh-contoh lazim pengaruh bahasa terhadap keadaan keadaan kognitif dan afektif kita.
b. Hipotesis Whorfian
Sebuah pertanyaan menggoda muncul dari pengamatan semacam itu.Apakah bahasa mencerminkan pandangan dunia tentang suatu budaya,atau apakah bahasa benar-benar membentuk pandangan dunia?Berangkat dari ide-ide Wilhelm van Humboldt(1767-1835),yang menyatakan bahwa bahasa membentuk weltanshauung,atau pandangan dunia seseorang,Edward Sapir dari Benjamin Whorf mengajukan sebuah hipotesis yang kini sudah diberi beberapa label alternatif:hipotesis Sapir-Whorf,hipotesis Whorfian,relativitas linguistic,atau Determinisme Linguistik,atau demi simpelnya,apa yang sekarang disebut sebagai Hipotesis Whorfian.
Kesimpulan paling valid untuk semua studi semacam itu adalah bahwa mungkin kiranya bicara tentang apapun dalam bahasa apapun selama si penutur bersedia menggunakan penyampaian tak langsung dalam derajat tertentu….Setiap bahasa alamiah menyediakan sebuah bahasa untuk bicara tentang bahasa lain,yaitu metabahasa,maupun sebuah perkakas yang sepenuhnya memadai untuk melakukan pengamatan jenis apa saja yang perlu dibuat tentang dunia.Jika demikian kasusnya,setiap bahasa alamiah pastilah sebuah system yang sangat kaya yang siap membuat para penuturnya mengatasi kecenderungan yang ada.Maka sekalipun beberapa aspek bahasa tampaknya memberi kerangka piker kognitif potensial(misalnya,dalam bahasa Inggris,passive voice,system tense,”kata-kata licin”, dan item-item leksikal)kita juga bisa mengenali bahwa melalui bahasa dan budaya,sejumlah property universal mengikat kita bersama di satu dunia.Belajar berfikir dalam bahasa lain mungkin mensyaratkan penguasaan bahasa itu secara memadai,tetapi pada umumnya pembelajar bahasa kedua tak perlu belajar berfikir dari awal lagi.Seperti dalam setiap pengalaman pembelajaran yang lain,pembelajaran bahasa kedua bisa memanfaatkan kegunaan positif pengalaman-pengalaman sebelumnya untuk memudahkan proses pembelajaran dengan mempertahankanapa yang valid dan berharga untuk pembelajaran budaya kedua dan pembelajaran bahasa kedua.
9. Budaya di kelas bahasa
Dalam bagian sebelumnya sejumlah aplikasi isu budaya telah berhasil masuk kekelas bahasa.Salah satu sumber bantuan terbaik untuk mengarahkan anda lebih maju dalam menginjeksikan budaya kedalam kelas anda tersedia dalam Crossing Cultures in the Language Classroom karya DeCapua dan Wiltergerst (2004).Dalam panduan praktis untuk para guru ini,kedua penulis menyediakan pelatihan langsung dalam merancang pelajaran dan aktivitas dalam pengertian pendefinisian budaya,kolektivisme dan individualisme,gegar budaya,atribut budaya komunikasi nonverbal,peran sosial,dan komunikasi prakmatis.
C. Penutup
Berdasarkan uraian-uraian di atas antara factor-faktor sosial dan budaya sangat mempengaruhi pemerolehan mapun pembelajaran bahasa. Jarak sosial seperti dominasi, integrasi, kekohesifan, keserasian, kepermanenan mempengaruhi terhadap situasi pembelajaran bahasa yang baik dan buruk. Adapun budaya kita untuk membuat streretipe maupun generalisai terhadap orang-orang pada bangsa-bangsa tertentu bias menjadi faktor penghambat ataupun pendorong dalam pembelajaran bahasa.
Dengan demikian, baik pembelajar maupun guru bahasa kedua perlu memahami perbedaan-perbedaan budaya, untuk mengakui secara terbuka bahwa tidak ada orang yang sama. Sebagai guru kita harus berjuang memahami identitas-identitas pembelajar kita dalam hal latar belakang soial budaya mereka.
Buku Sumber
Brown, H. Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Pearson Education, Inc. (Terjemahan Noor Cholis dan Yusi Avianto).
FAKTOR SOSIAL BUDAYA DALAM PEMEROLEHAN DAN PEMBELAJARAN BAHASA
( Tugas Mata Kuliah Landasan Pembelajaran Bahasa
Dosen Pengampu Dr. Irene Risakotta, M. Pd)
Oleh
Faiqotur Rosidah (09745005)
Sulistiyani (09745004)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
Desember, 2009
Rabu, 09 Desember 2009
TUgas Linguistik Prof. Kisyani Laksono
ANALISIS KALIMAT DALAM TATA BAHASA
TRANSFORMASI GENERATIF
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Tata bahasa Transformasi Generatif atau biasa disebut Tata bahasa Generatif Trasformasi (TGT) adalah sebuah konsep kajian kebahasaan yang dipelopori oleh Noam Chomsky. Pada tahun 1957, Chomsky mengenalkan gagasan barunya melalui sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Gagasan barunya yang tertuang dalam buku itulah yang kemudian oleh para linguist disebut degnan Tata bahasa Generatif Transformasi.
Dalam buku tersebut, Chomsky menjelaskan bahwa dia melakukan penolakan terhadap asumsi utama strukturalisme yang beranggapan bahwa kelayakan kajian kebahasaan ditentukan oleh diskripsi data kebahasaan secara induktif.
Data kebahasaan secara induktif di sini diartikan sebagai data-data kebahasaan yang sudah paten dan dianggap selesai. Menurut Chomsky (dalam Samsuri, 1988:99) kajian linguistik berkaitan dengan aktivitas mental yang berkaitan dengan probabilitas, bukan berhadapan dengan data kajian tertutup dan selesai, sehingga dapat dianalisis dan didiskripsikan secara pasti. Oleh karena itu, teori linguistik seharusnya dikembangkan dengan bertolak dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.
Chomsky berkesimpulan bahwa tugas teori linguitik adalah menangkap perangkat kaidah yang terbatas, yang secara tuntas mampu menjelaskan ciri gramatikal dari sejumlah kalimat yang tak terbatas.Jadi dengan adanya TGT ini, kita bisa mengetahui seperangkat kaidah kalimat secara jelas. TGT dalam perjalanannya mengalami penyempurnaan-penyempurnaan dan penambahan ataupun koreksi dari Chomsy sendiri maupun dari murid-muridnya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
a. Apa prinsip-prinsip dasar Tata bahasa Transformasi Generatif menurut Chomsky?
b. Siapakah tokoh Transformasi Generatif di Indonesia?
c. Bagaimana terapan secara umum Tata bahasa Transformasi generatif?
d. Bagaimana analisis kalimat menurut Tata bahasa Transformasi Genaratif?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini bertujuan menguraikan hal-hal berikut.
a. Prinsip-prinsip dasar Tata bahasa Transformasi Generatif menurut Chomsky.
b. Tokoh Transformasi Generatif di Indonesia.
c. Terapan secara umum Tata bahasa Transformasi generatif.
d. Analisis kalimat menurut Tata bahasa Transformasi Genaratif?
1.4 Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat kajian makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran secara spesifik mengenai tata bahasa transformasi generatif. Selain itu kajian ini juga bermanfaat untuk terapan dan kajian analisis kalimat dalam TGT.
II. Kajian Pustaka
2.1 Kajian Makalah/Artikel
Tulisan-tulisan mengenai Tata bahasa Transformasi Generatif banyak ditulis oleh mahasiswa maupun dosen. Salah satunya adalah tulisan Djoko Saryono, dosen FPBS UM, mengenai Gagasan Dasar Noam Chomsky tentang Tata bahasa Transformasi Generatif.
Menurutnya tata bahasa ini bertumpu pada paradigma Cartesian sehingga sangat natives-rasionalistis. Hal ini makin tampak jelas pada gagasan-gagasan dasarnya tentang kemampuan, kinerja, struktur lahir, struktur batin, dan transformasi. Gagasan-gagasan dasar ini di samping cetusan Chomsky sendiri juga diilhami oleh gagasan-gagasan yang sudah ada sebelumnya dan usulan-usulan pakar bahasa lainnya. Dalam sejarahnya hingga sekarang, gagasan-gagasan dasar TTG ini mengalami pergeseran-pergeseran eksistensial dan procedural karena temuan-temuan penelitian dan kritik-kritik yang dialamatkan pada TTG. Pergeseran ini tampak pada adanya berbagai versi TTG, yaitu versi Syntactic Structures, Aspect sampai dengan versi Penguasaan dan Ikatan. Hal ini menunjukan bahwa gagasan dasar TTG tidak revolusioner, tetapi evolusioner (Jurnal FPBS UM ).
Tulisan lain mengenai tata bahasa transformasi generatif ditulis oleh I Nyoman Suparsa dengan judul fonologi bahasa Rongga bahasa di daerah flores:sebuah kajian transformasi generatif. Beliau menganalisis ujud (realisasi fonologis) dari morfem-morfem bahasa Rongga,syarat-syarat struktur bahasa rongga dan proses serta kaidah fonologis bahasa Rongga. Penelitiannya mengunakan pendekatan fonolohi generatif,fonologi auto segmental dan fonetik.Hasil penelitiannya menunjukkan bahasa rongga memiliki enam segmen vokal dan duapuluh lima segmen konsonan.
Makalah ini berbeda dengan kedua penelitian diatas meskipun memiliki kesamaan didalam teori kajian yaitu kajian transformasi generatif. Makalah ini menganalisis kalimat dalam bahasa Indonesia menggunakan kajian transformasi generatif.
2.2 Kajian Teori
A.Linguistik generatif
Tata bahasa transformasi genaratif atau TGT merupakan teori linguistik yang menyatakan bahwa tujuan linguistic ialah menemukan apa yang semesta dan teratur dalam kemampuan manusia untuk memahami dan menghasilkan kalimat-kalimat yang gramatikal. Kalimat dianggap sebagai satuan dasar, dan hubungan antara unsur-unsur dalam struktur kalimat diuraikan atas abstraksi yang disebut kaidah struktur frase dan kaidah transformasi (Kridalaksana, 1993,69).
Linguistik generatif atau lebih dikenal linguistik transformasional dipelopori oleh Noam Chomsky.Chomsky berusaha memperlihatkan bahwa bahasa manusia tidak bisa diteliti semata-mata dalam lingkup stimulus dan respons yang tampak atau hanya berdasarkan volume data mentahyang dikumpulkan oleh peneliti lapangan. Linguis generatif tertarik tak hanya pada urusan mendeskripsikan bahasa (mencapai tingkat kecukupan deskriptif) tetapi juga berupaya ,mencapai tingkat kecukupan eksplanatoris dalam studi bahasa; inilah “basis utama,yang bersifat independent pada bahasa apa pun,untuk memilih tata bahasa yang memadai tata bahasa yang memadai secara deskiptif. (Chomsky dalam Brown,1997:11)
Buku Noam Choamsky berjudul syntactic structure terbit tahun 1957 kemudian disempurnakan dengan bukunya yang berjudul Aspect of the theory of syntax pada tahun 1965.Menurut Choamsky salah satu tujuan dari penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari tata bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna. Kalau begitu,tugas tata bahasa haruslah dapat menggambarkan hubungan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah-kaidah yang tepat dan jelas. Setiap tata bahasa menurut Chomsky merupakan teori dari bahasa itu sendiri.ada pun tata bahasa haruslah memenuhi syarat sebagai berikut.
Pertama kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa tersebut harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat –buat. Kedua tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa sehingga satuan istilah yang digunakan tidak berdasarkan gejala bahasa tertentu saja,dan semuanya ini harus sejajar dengan linguistik tertentu (chaer,2003:364)
Dalam buku Aspect of the theory of syntax Chomsky menjelaskan perubahan dalam trasformasi generatif yaitu sebagai berikut.
1. Komponen semantis suatu deskriptif linguistik berbentuk seperangkat kaidah interpretatif yang beroperasi pada sintaksis kalimat-kalimat kaidah ini agak mirip dengan kaidah fonologis.
2. Ada pembedaan antara struktur lahir dan batin.struktur lahir jauh lebih menyerupai struktur yang oleh para srukturralis langsung diabstrakkan dari bentuk kalimat. Struktur batin merupakan abstraksi yang berbeda tetapi dengan diakuinya struktur tersebut maka tersedia sistem yang lebih kaya untuk menganalisis dan menjelaskan hubungan timbale balik antara sintaksis dan semantic dalam kalimat-kalimat bahasa yang alami.
3. Disribusi dari elemen-elemen sintaksis diubah secara bertahap yang memperkaya struktur frase atau struktur batin dengan mengorbankan kaidah trasformasi. Selanjutnya,trasformasi dikendalikan oleh struktur batin,dan kemudian dikemukakan bahwa trasformasi itu sendiri tidak mempunyai pengaruh terhadap makna kalimat. Kategori seperti negasi,pasif,pertanyaan,dan perintah seta hubungan subordinat dan koornidat secara formal diperkenalkan sebagai bagian dari kaidah trasformasi. Kaidah-kaidah ini kemudian dimasukkan kedalam komponen dasar yang mengatur struktur batin dan leksikon bersama-sama dengan subkategorisasi nomina dan verba menjadi subkelas seperti nomina takterbilang dan nomina terbilang,verba transitif dan verba intransifif.
B. Perkembangan trasformasi generatif
Sejak tahun 1957 Chomsky telah memprakarsai dan membuat suatu suatu revolusi dalam linguistik teoritik berkenan dengan cara meneliti bahasa dan berkenaan dengan tujuan yang harus dicapai dengan linguistik itu sendiri.dalam periode itu Chomsky tidak sendirian.Inovasi teoritis lain telah diajukan. Beberapa diantaranya langsung berakar dari cara Chomsky merumuskan teorinya,dan yang lainnya merupakan hasil usaha yang mengembangkan cara-cara yang berbeda untuk memahami dan menganalisis bahasa. Perkembangan yang paling penting dalam teori linguistic dan dalam praktik linguistic terkait tidak bias dikatakan ada kesamaan yang positif dari teori-teori ini,karena kesemuanya mempunyai konsep-konsep dasar dan kerangka analisis yang sangat berbeda . Namun secara negatif ,semua teori itu sepaham bahwa linguistik stukturalis kurang mendalam dan,memberikan sumbangan pada bidang linguistik dan pada pemahaman kita pada bidang bahasa melalui pembatasan terhadap apa yang dapat diterima sebagai data linguistis dengan prosedur yang secara ilmiah dapat ditempuh,linguistic strukturalis sengaja mengabaikan banyak hal yang telah dan harus menjadi minat linguis yang dengan serius mengkaji bahasa.
Menjelang dasawarsa tujuhpuluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky,antara lain Postal,Lakof,Mc Cawly, dan Kiparsky sebagai reaksi terhadap Chomsky memisahkan diri dari kelompok Chomsky,dan membentuk aliran sendiri. Kelompok Lakof ini terkenal dengan sebutan kaum semantik generatif. Mereka memisahkan diri karena ketidakpuasa terhadap teori Chomsky,yang menyatakan bahwa semantik mempunyai ekssistensi yang lain dari sintaksis dan bahwa struktur batin tidak sama dengan struktur semantis. Menurut teori generatif semantik struktrur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen,dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Tidak perlu dengan batuan kaidah lain yakni kaidah sintaksis dasar,kaidah proyeksi, dan kaidah fonologi,seperti yang diajarkan Chomsky. Sudah seharusnya semantic dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argumen dalam suatu proposisi.
2.3 Kerangka Pikir
Makalah ini menggunakan kerangka piker sebagai berikut
Prinsip dasar
Tokoh Indnsia
Terapan umun
Analisis Kalimat
III. Metode Kajian
Makalah ini mengunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengunakan kajian tata bahasa trasformasi generatif. Mula-mula kalimat ditranskripsikan kemudian dianalisis berdasarkan teori tata bahasa transformasi generatif terutama analisis komponen dasar,komponen transformasional,dan semantik generatif.
IV. Pembahasan
4.1 Prinsip-prinsip Dasar Tatabahasa Transformasi Gegeratif.
TGT bertolak dari hakekat pengetahuan linguistik yang dimiliki oleh penutur asli bahasa. TGT menetapkan pengetahuan linguistik dengan bantuan aturan-aturan "generatif" dan "transformasional" yang sekaligus merupakan petunjuk untuk menyusun dan menginterpretasi kalimat-kalimat-yang terbentuk secara gramatikal dan balk. Tata bahasa menetapkan suatu tuturan gramatikal jika dapat terbangun hubungan yang tepat antara tuturan tersebut dan beberapa kombinasi simbol-simbol yang dihasilkan oleh aturan'tata bahasa. Dalam membangun aturan-aturan, penganut TGT berpegang pada 'cara deduksi dan intuisi penutur asli (Kaseng, 1989:114).
Pada tahap awal, gramatika dalam aliran ini, dijelaskan dengan kaidah-kaidah. Kaidah-kaidah mendahului elemen dan struktur, karena kaidah mendahului elemen dan struktur. Kaidah pertama dimulai dengan membagi atau menjabarkan K(alimat) menjadi F(rase) V(erbal). Setiap elemen berikutnya bias dijabarkan dengan kaidah-kaidah lain. K merupakan satu-satunya elemen yang tampil sebagai masukan bagi suatu kaidah tanpa pernah menjadi keluaran bagi kaidah sebelumnya.
Perangkat kaidah yang pertama adalah kaidah S(truktur)F(rase). Dalam struktur frase, satuan sintaksis terbesar , yaitu K(alimat),melalui penerapan kaidah-kaidah, diperluas menjadi untaian (struktur) satuan-satuan yang lebih kecil, dan berakhir dengan suatu kombinasi antara unsure leksikal dan elemen gramatikal. Teori ini menyerupai analisis konstituen terdekat.
Definisi tata bahasa menurut TG dapat dijelaskan bahwa tata bahasa merupakan sebuah sistem kaidah yang menurunkan (menghasilkan) kalimat-kalimat gramatikal suatu bahasa, dan ide yang menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif (a creative oreativity), mengantarkan kepada asumsi kedua. Asumsi kedua ini menyatakan bahwa selama bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif, dalam tahap belajar manapun guru akan mengarahkan siswanya untuk kreatif menghasilkan ujaran-ujaran (kalimat) baru, daripada sekedar mengulang-ulang atau mengingat-ingat apa yang telah diperolehnya dalam belajar. Meskipun Chomsky mengidentifikasikan kaidah-kaidah TG dengan kompetensi penutur asli, kita tidak harus menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah ini secara sadar digunakan oleh penutur asli dalam menghasilkan ujaran (kalimat). Demikian juga, suatu kaidah tatabahasa tidak berimplikasi dalam pengajaran kaidah-kaidah bahasa. Akan tetapi sesungguhnya kaidah-kaidah itu adalah suatu deskripsi dari idealisasi pengetahuan penutur asli yang tersimpan dalam kesadaran dan kemudian dapat menolongnya menciptakan (menghasilkan) ujaran baru secara kreatif.
Informasi di atas menghantarkan kepada asumsi ketiga, yang menyatakan bahwa dalam berbagai tahap belajar bahasa kemampuan siswa untuk menciptakan ujaran-ujaran baru akan bertambah dengan pengetahuannya tentang kaidah-kaidah yang menggambarkan ujaran.
Seperti halnya konsep langue dan parole dari de Saussure, Chomsky membedakan adanya kemampuan (competence) dan perbuatan berbahasa/ performa (performance) . Kompetensi merujuk pada pengetahuan dasar seseorang tentang sistem, kejadian, atau fakta atau dapat dikatakan bahwa kompetensi merupakan pengetahuan mendasar mengenai system bahasa--kaidah-kaidah tata bahasanya, kosakatanya, seluruh pernak-pernik bahasa dan bagaimana menggunakannya secara padu (Brown, 2007:39). Adapun performa adalah manifestasi yang konkret dan bias diamati sebagai realisasi dari kompetensi. Performa merupakan produksi actual (berbicara, menulis) atau pemahaman (menyimak, membaca) terhadap peristiwa-peristiwa linguistik. Chomsky mencontohkan kompetensi dengan pembicara-pendengar “ideal” yang tidak memperlihatkan hambatan variabel-variabel performa seperti keterbatasan memori, kekacauan, pergeseran, perhatian dan minat, kesalahan, dan fenomena keraguan seperti pengulangan, ketersendatan, jeda, penghilangan, dan penambahan. Inti gahasan Chomsky mengenai hal ini adalah bahwa sebuah teori bahasa merupakan teori kompetensi tidak per;lu memilah-milah sedemikian banyak variable performa yang tidak mencerminkan kemampuan linguistik dasar pembicara-pendengar.
Dengan demokian dapat dikatakan bahwa dalam tata bahasa generatif ini yang menjadi objeknya adalah kemampuan atau kompetensi, meskipun performa juga penting; dan bagi seorang peneliti bahasa focus penelitiannya adalah system kaidah yang dipakai si pembicara untuk membuat kalimat yang diucapkannya. Jadi, tata bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.
TGT juga membuat pembedaan antara tataran struktur batin dan struktur lahir. Struktur lahir jauh lebih menyerupai struktur yang oleh para strukturalis langsung diabstraksikan dari bentuk kalimat. Struktur batin merupakan abstraksi yang lebih berbeda. Dengan diakuinya struktur batin ini akan tersedia sistem yang jauh lebih kaya untuk menganalisis dan menjelaskan hubungan timbal balik antara sintaksis dan semantic dalam kalimat-kalimat bahasa alami.
Dengan kata lain dapat dijelaskan sebagai berikut. Ada dua tataran atau stuktur dalam TGT yakni tataran batin atau lapis batin (deep structure) dan struktur lahir (surface structure). Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin. Hubungan keduanya dapat digambarkan sebagai berikut.
Model Transformasional Perangkat Bahasa
Sintaksis
Kaidah SF
Kaidah Transformasi
Dasar
Stuktur batin Struktur lahir
Komponen semantic Komponen fonologis
Penafsiran semantic Penafsiran fonetis
Struktur dalam terdiri atas komponen dasar (base component) yang selanjutnya terbagi pula atas struktur frase dan aturan penyisipan leksikal (lexical insertion atau sub-categoriza¬tion). Ditambah lagi, komponen dasar ini memiliki leksikon dan kom¬ponen semantik yang menentukan arti bagi aturan-aturan struktur frase clan penyisipan leksikal. Struktur permukaan_terdiri atas kom¬ponen fonologik yang menentukan untaian pengucapan. Kedua tingkat ini dihubungkan oleh kaidah tranformasi. Mengenai hal ini akan dibahas lebih lanjut pada analisis kalimat.
4.2 Tokoh transformasi generatif di Indonesia
Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Chomsky yakni teori transformasi generatif gemanya di Indonesia pada akhir tahun Lima puluhan. Pendidikan formal linguistic fakultas sastra dan pendidikan guru sampai akhir tahun 50an masih terpaku pada konsep-konsep tata bahasa tradisional yang sangat bersifat normatif. Perkenalan konsep-konsep linguistic modern terjadi sejak kepulangan sejumlah linguis Indonesia dari Amerika yaitu Anton M. Moelyono dan T.W. Kamil. Gorys keraf, Harrimukti Kridalaksana Merekalah yang pertama-tama memperkanalkan konsep-konsep fonem,morfem dan klausa. Sebelumnya konsep-konep tersebut belum dikenal sebagai satuan lingual. Yang dikenal hanyalah satuan lingual.
Konsep linguistik modern sukar diterima oleh para guru bahasa dan pakar bahasa karena konsep tata bahasa tradisional sudah mendarah daging. Perkembangan waktu jualah yang kemudian menyebabkan konsep linguistic dapat diterima dan konsep linguistic tradisional agak tersisih. Awal tahun 70an dengan terbitnya buku tata bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf, perubahan sikap terhadap linguistic modern mulai banyak terjadi.
Datangnya Prof. Verhaar, guru besar linguistic dari Belanda, yang kemudian disusul dengan adanya kerja sama kebahasan Indonesia-Belanda, menjadikan studi linguistic terhadap bahasa-bahasa daerah dan bahasa nasional Indonesia semakin marak. Sejalan dengan hal tersebut pada tanggal 15 november tahun 1975 atas prakarsa linguis senior maka berdirilah organisasi Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). MLI mengadakan musyawarah nasional 3 tahun sekali.mulai tahun 1983 menerbitkan jurnal yang diberi nama Linguistik Indonesia. Jurnal ini dimaksudkan sebagai wadah bagi para anggota MLI untuk melaporkan atau mempublikasikan hasil penelitianya.
4.3 Terapan Umum Tata Bahasa Trasformasi Generatif
Dalam teori TG, seorang anak memperoleh kompetensinya dalam tahap awal dalam bahasa ibunya. Dalam setiap tahapan anak membentuk hipotesis tertentu tentang kode dan mengetesnya dengan ujaran yang didengarnya, sampai pada akhirnya anak mempelajari keseluruhan kode. Menurut pandangan ini ujaran anak yang menyimpang dari ujaran dewasa bukanlah suatu kesalahan (errors) melainkan suatu manifestasi dari sejenis kode yang telah dia kontrol dalam tahap yang bersangkutan. Apabila kita mengasumsikan bahwa belajar bahasa kedua sama dengan belajar bahasa pertama, kita dapat mengajukan asumsi yang lain untuk pengajaran bahasa yang berhubungan dengan ide kalimat inti (kernels) dan transformasi. Kita mengetahui bahwa ”Kernels” adalah struktur yang lebih kompleks.
Kernels atau kalimat inti adalah kalimat deklaratif yang tidak bermakna ganda dan terdapat dalam struktur dalam (deep structure); sedangkan kalimat transformasi adalah semua tipe kalimat yang diturunkan dari kalimat inti dengan bantuan /hasil kerja kaidah transformasi. Contoh kalimat ‘The boys watced the game’ dapat ditransformasikan menjadi kalimat pasif ‘The game was watched by the boys’. Adapun analisis struktur frase (perumusan awal TGT) adalah sebagai berikut.
• Analisis Kernels atau Komponen Dasar
K
FN FV
Art Nj
V FN
V pang lamp art N
The boy s wacth ed the game
Keterangan :
K : Kalimat; FN : Frase Nomina ; FV : Frase Verba ; Art : Artikel; Nj : Nomina jamak; Vpang : Verba pangkal; Lamp : lampau (Penanda lampau)
• Analisis Komponen Transformasional
K
FN FV
V FP
P FN
The game was watched by the boys
Salah satu versi terakhir dari gramatika generatif Chomsky dikenal sebagai teori penguasaan (government) dan pengikatan (binding). Istilah penguasaan merupakan perluasan dari pemakaian tradisional kata tersebut dalam gramatika. Kata-kata yang menguasai menentukan kasus bagi nomina, frase nomina, pronominal, yang mempunyai hubungan sistaksis khusus dengan kata-kata tersebut. Sedangkan pengikatan atau binding menyangkut hubungan antara anaphora dan pronominal dengan antesedennya. Anafora mengacu pada hal atau fungsi yang menunjuk kembali kepada sesuatu yang telah disebutka sebelumnya dalam kalimat atau wacana ( yang disebut anteseden) (Kridalaksana,1993: 14).
4.4 Analisis Kalimat dalam TGT
Bagian ini menguraikan analisis kalimat menggunakan kaidah komponen dasar, kaidah transformasional dan semantic genaratif.
A. Komponen dasar
Kaidah komponen dasar menurunkan kalimat-kalimat inti. Terdapat dua tipe kaidah dalam hal ini, yakni kaidah struktur frase dan kaidah penyisipan leksikal (Kaseng, 1989: 120). Kaidah struktur frase (SF) memiliki tipe seperti analisis bawahan langsung dalam tata bahasa struktural. Contoh kalimat “Ibu membaca buku” dapat dianalisis sebagai berikut.
K
FN FV
N 1
V FN (N2) Ibu membaca buku
B. Komponen transformasional
Kaidah transformasional bekerja dalam kalimat inti yang diturunkan dari komponen dasar. Dalam versi standar TGT, kaidah transformasional mempertahankan arti. Artinya, kaidah pengubahan kalimat inti ke struktur permukaan tanpa mengubah arti.
Terdapat tiga jenis proses transformasional yaitu penambahan, penghilangan, dan transposisi (addition, deletion, transposition). Contoh pengubahan adalah mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif. Kalimat “ Ibu membaca buku.” bisa diubah menjadi “Buku dibaca (oleh) ibu.” Analisisnya sama dengan komponen dasar yang dibalik.
K
FN FV
N 2
V FN (N1) Buku dibaca (oleh) ibu
Kalimat “ Buku dibaca oleh ibu” ataupun “Buku dibaca ibu” dikenal oleh penutur asli sebagai dua kalimat yang sama. Dalam kaidah transformasi dapat dikatakan kalimat kedua melepas (menghilangkan) kata oleh .
C. Semantik generatif
Semantik generatif seperti yang diurakan dalam subbab 2 makalaha ini, merupakan pengembangan dari murid-murid dan pengikut Chomsky. Kelompok Lakoff dikenal dengan sebutan kaum semantik generatif . Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argument dalam proposisi. Struktur logika itu dapat digambarkan sebagai berikut.
Proposisi
Predikat Argumen1… Argumen n
Contoh kalimat “Ibu membaca buku” mempunyai struktur
Prop
Pred Arg1 Arg2
membaca Ibu buku
Atau dapat dirumuskan sebagai : Membaca (ibu, buku); Pred (Arg1,Arg2). Jadi proposisi kalimat itu berargumen 2.
V. Penutup
5.1 Simpulan
Aliran transformasi muncul menentang aliran strukturalis yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan. TGT mempunyai pandangan bahwa bahasa bersifat mentalistik dan kognitif.
Adapun ciri-ciri aliran transformasi adalah sebagai berikut.
1. Berdasarkan faham mentalistik.
Aliran ini meganngap bahasa bukan hanya proses rangsang-tanggap akan tetapi merupakan proses kejiwaan. Aliran ini sagat erat dengan psikolinguistik.
2. Bahasa merupakan innate
Bahasa merupakan faktor innate(keturunan/warisan)
3. Bahasa terdiri dari lapis dalam dan lapis permukaan.
Teori ini memisah bahasa menjadi dua lapis yaitu deep structure dan surface structure. Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin.
4. Bahasa terdiri dari unsur competent dan performance
Linguistic competent atau kemampuan linguistik merupakan pengetahuan seseorang tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah di dalamnya. Linguistic performance atau performansi linguistik adalah keterampilan seseorang menggunakan bahasa.
5. Analisis bahasa bertolak dari kalimat.
6. Membedakan kalimat inti dan kalimat transformasi.
Kalimat inti merupakan kaliamt yang belum dikenai transformasi sedangkan kalimat transformasi merupakan kalimat yang sudah dikenai kaidah transformasi yang ciri-cirinya yaitu lengkap, simpel, statemen, dan aktif. Lam pertumbuhan selanjutnya ciri itu ditambah runtut dan positif.
7. Analisis diwujudkan dalam diagram pohon dan rumus.
Analisis dalam teori ini dimulai dari struktur kalimat lalu turun ke frase menjadi frase benda (FN) dan frase kerja (FV) kemudian dari frase turun ke kata.
8. Gramatikal bersifat generatif.
Bertolak dari teori yang dinamakan tata bahasa generatif tansformasi (TGT).
4.2. Saran
Setiap aliran linguistik tentunya memiliki keunggulan-keunggulan sekaligus kelemahan-kelemahan. Demikian halnya aliran transformasi, tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Untuk itu, sebagai guru bahasa sebaiknya kita memanfaatkan berbagai teori yang tentunya disesuaikan dengan keadaan siswa. Dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan masing-masing teori, guru dapat merancang pembelajarannya sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Sejalan dengan hal tersebut J.B. Carol (1971), mengajukan sintesa kedua teori belajar tersebut yang diberi nama teori pembentukan kebiasaan kognitif (cognitive code learning). Menurut teori Carol ini belajar bahasa adalah rangkaian antara latihan-latihan menguasai pola-pola dan sekaligus menciptakan kondisi belajar yang kondusif agar pola-pola itu terinternalisasikan dalam kesadaran siswa. Tahap berikutnya siswa didorong untuk mampu menghasilkan kalimat baru. Internalisasi dan pembentukan kalimat baru saja, tidak cukup. Tahap berikutnya menurut Carol, siswa harus diterjunkan dalam situasi komunikasi riil seperti yang terjadi pada penutur asli.
DAFTAR PUSTAKA
Brown, Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Jakarta:Pearson Ed.
Chaer. Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Kaseng, Sjahruddin. 1989. Linguistik Terapan : Pengantar Menuju Pengajaran Bahasa yang Sukses. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta : Gramedia.
Samsuri,...
Saryono, Djoko. ... Gagasan Dasar Noam Chomsky tentang TTG. Malang : Jurnal FBS.
ANALISIS KALIMAT DALAM TATA BAHASA TRANSFORMASI GENERATIF
( Tugas Mata Kuliah Lingistik Umum
Dosen Pengampu Prof. Kisyani Laksono)
Oleh
Faiqotur Rosidah (09745005)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
November, 2009
TRANSFORMASI GENERATIF
I. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Tata bahasa Transformasi Generatif atau biasa disebut Tata bahasa Generatif Trasformasi (TGT) adalah sebuah konsep kajian kebahasaan yang dipelopori oleh Noam Chomsky. Pada tahun 1957, Chomsky mengenalkan gagasan barunya melalui sebuah buku yang berjudul Syntactic Structure. Gagasan barunya yang tertuang dalam buku itulah yang kemudian oleh para linguist disebut degnan Tata bahasa Generatif Transformasi.
Dalam buku tersebut, Chomsky menjelaskan bahwa dia melakukan penolakan terhadap asumsi utama strukturalisme yang beranggapan bahwa kelayakan kajian kebahasaan ditentukan oleh diskripsi data kebahasaan secara induktif.
Data kebahasaan secara induktif di sini diartikan sebagai data-data kebahasaan yang sudah paten dan dianggap selesai. Menurut Chomsky (dalam Samsuri, 1988:99) kajian linguistik berkaitan dengan aktivitas mental yang berkaitan dengan probabilitas, bukan berhadapan dengan data kajian tertutup dan selesai, sehingga dapat dianalisis dan didiskripsikan secara pasti. Oleh karena itu, teori linguistik seharusnya dikembangkan dengan bertolak dari cara kerja secara deduktif yang dibangun oleh konstruk hipotetik tertentu.
Chomsky berkesimpulan bahwa tugas teori linguitik adalah menangkap perangkat kaidah yang terbatas, yang secara tuntas mampu menjelaskan ciri gramatikal dari sejumlah kalimat yang tak terbatas.Jadi dengan adanya TGT ini, kita bisa mengetahui seperangkat kaidah kalimat secara jelas. TGT dalam perjalanannya mengalami penyempurnaan-penyempurnaan dan penambahan ataupun koreksi dari Chomsy sendiri maupun dari murid-muridnya.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
a. Apa prinsip-prinsip dasar Tata bahasa Transformasi Generatif menurut Chomsky?
b. Siapakah tokoh Transformasi Generatif di Indonesia?
c. Bagaimana terapan secara umum Tata bahasa Transformasi generatif?
d. Bagaimana analisis kalimat menurut Tata bahasa Transformasi Genaratif?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini bertujuan menguraikan hal-hal berikut.
a. Prinsip-prinsip dasar Tata bahasa Transformasi Generatif menurut Chomsky.
b. Tokoh Transformasi Generatif di Indonesia.
c. Terapan secara umum Tata bahasa Transformasi generatif.
d. Analisis kalimat menurut Tata bahasa Transformasi Genaratif?
1.4 Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat kajian makalah ini adalah untuk memperoleh gambaran secara spesifik mengenai tata bahasa transformasi generatif. Selain itu kajian ini juga bermanfaat untuk terapan dan kajian analisis kalimat dalam TGT.
II. Kajian Pustaka
2.1 Kajian Makalah/Artikel
Tulisan-tulisan mengenai Tata bahasa Transformasi Generatif banyak ditulis oleh mahasiswa maupun dosen. Salah satunya adalah tulisan Djoko Saryono, dosen FPBS UM, mengenai Gagasan Dasar Noam Chomsky tentang Tata bahasa Transformasi Generatif.
Menurutnya tata bahasa ini bertumpu pada paradigma Cartesian sehingga sangat natives-rasionalistis. Hal ini makin tampak jelas pada gagasan-gagasan dasarnya tentang kemampuan, kinerja, struktur lahir, struktur batin, dan transformasi. Gagasan-gagasan dasar ini di samping cetusan Chomsky sendiri juga diilhami oleh gagasan-gagasan yang sudah ada sebelumnya dan usulan-usulan pakar bahasa lainnya. Dalam sejarahnya hingga sekarang, gagasan-gagasan dasar TTG ini mengalami pergeseran-pergeseran eksistensial dan procedural karena temuan-temuan penelitian dan kritik-kritik yang dialamatkan pada TTG. Pergeseran ini tampak pada adanya berbagai versi TTG, yaitu versi Syntactic Structures, Aspect sampai dengan versi Penguasaan dan Ikatan. Hal ini menunjukan bahwa gagasan dasar TTG tidak revolusioner, tetapi evolusioner (Jurnal FPBS UM ).
Tulisan lain mengenai tata bahasa transformasi generatif ditulis oleh I Nyoman Suparsa dengan judul fonologi bahasa Rongga bahasa di daerah flores:sebuah kajian transformasi generatif. Beliau menganalisis ujud (realisasi fonologis) dari morfem-morfem bahasa Rongga,syarat-syarat struktur bahasa rongga dan proses serta kaidah fonologis bahasa Rongga. Penelitiannya mengunakan pendekatan fonolohi generatif,fonologi auto segmental dan fonetik.Hasil penelitiannya menunjukkan bahasa rongga memiliki enam segmen vokal dan duapuluh lima segmen konsonan.
Makalah ini berbeda dengan kedua penelitian diatas meskipun memiliki kesamaan didalam teori kajian yaitu kajian transformasi generatif. Makalah ini menganalisis kalimat dalam bahasa Indonesia menggunakan kajian transformasi generatif.
2.2 Kajian Teori
A.Linguistik generatif
Tata bahasa transformasi genaratif atau TGT merupakan teori linguistik yang menyatakan bahwa tujuan linguistic ialah menemukan apa yang semesta dan teratur dalam kemampuan manusia untuk memahami dan menghasilkan kalimat-kalimat yang gramatikal. Kalimat dianggap sebagai satuan dasar, dan hubungan antara unsur-unsur dalam struktur kalimat diuraikan atas abstraksi yang disebut kaidah struktur frase dan kaidah transformasi (Kridalaksana, 1993,69).
Linguistik generatif atau lebih dikenal linguistik transformasional dipelopori oleh Noam Chomsky.Chomsky berusaha memperlihatkan bahwa bahasa manusia tidak bisa diteliti semata-mata dalam lingkup stimulus dan respons yang tampak atau hanya berdasarkan volume data mentahyang dikumpulkan oleh peneliti lapangan. Linguis generatif tertarik tak hanya pada urusan mendeskripsikan bahasa (mencapai tingkat kecukupan deskriptif) tetapi juga berupaya ,mencapai tingkat kecukupan eksplanatoris dalam studi bahasa; inilah “basis utama,yang bersifat independent pada bahasa apa pun,untuk memilih tata bahasa yang memadai tata bahasa yang memadai secara deskiptif. (Chomsky dalam Brown,1997:11)
Buku Noam Choamsky berjudul syntactic structure terbit tahun 1957 kemudian disempurnakan dengan bukunya yang berjudul Aspect of the theory of syntax pada tahun 1965.Menurut Choamsky salah satu tujuan dari penelitian bahasa adalah untuk menyusun tata bahasa dari tata bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna. Kalau begitu,tugas tata bahasa haruslah dapat menggambarkan hubungan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah-kaidah yang tepat dan jelas. Setiap tata bahasa menurut Chomsky merupakan teori dari bahasa itu sendiri.ada pun tata bahasa haruslah memenuhi syarat sebagai berikut.
Pertama kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa tersebut harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat –buat. Kedua tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa sehingga satuan istilah yang digunakan tidak berdasarkan gejala bahasa tertentu saja,dan semuanya ini harus sejajar dengan linguistik tertentu (chaer,2003:364)
Dalam buku Aspect of the theory of syntax Chomsky menjelaskan perubahan dalam trasformasi generatif yaitu sebagai berikut.
1. Komponen semantis suatu deskriptif linguistik berbentuk seperangkat kaidah interpretatif yang beroperasi pada sintaksis kalimat-kalimat kaidah ini agak mirip dengan kaidah fonologis.
2. Ada pembedaan antara struktur lahir dan batin.struktur lahir jauh lebih menyerupai struktur yang oleh para srukturralis langsung diabstrakkan dari bentuk kalimat. Struktur batin merupakan abstraksi yang berbeda tetapi dengan diakuinya struktur tersebut maka tersedia sistem yang lebih kaya untuk menganalisis dan menjelaskan hubungan timbale balik antara sintaksis dan semantic dalam kalimat-kalimat bahasa yang alami.
3. Disribusi dari elemen-elemen sintaksis diubah secara bertahap yang memperkaya struktur frase atau struktur batin dengan mengorbankan kaidah trasformasi. Selanjutnya,trasformasi dikendalikan oleh struktur batin,dan kemudian dikemukakan bahwa trasformasi itu sendiri tidak mempunyai pengaruh terhadap makna kalimat. Kategori seperti negasi,pasif,pertanyaan,dan perintah seta hubungan subordinat dan koornidat secara formal diperkenalkan sebagai bagian dari kaidah trasformasi. Kaidah-kaidah ini kemudian dimasukkan kedalam komponen dasar yang mengatur struktur batin dan leksikon bersama-sama dengan subkategorisasi nomina dan verba menjadi subkelas seperti nomina takterbilang dan nomina terbilang,verba transitif dan verba intransifif.
B. Perkembangan trasformasi generatif
Sejak tahun 1957 Chomsky telah memprakarsai dan membuat suatu suatu revolusi dalam linguistik teoritik berkenan dengan cara meneliti bahasa dan berkenaan dengan tujuan yang harus dicapai dengan linguistik itu sendiri.dalam periode itu Chomsky tidak sendirian.Inovasi teoritis lain telah diajukan. Beberapa diantaranya langsung berakar dari cara Chomsky merumuskan teorinya,dan yang lainnya merupakan hasil usaha yang mengembangkan cara-cara yang berbeda untuk memahami dan menganalisis bahasa. Perkembangan yang paling penting dalam teori linguistic dan dalam praktik linguistic terkait tidak bias dikatakan ada kesamaan yang positif dari teori-teori ini,karena kesemuanya mempunyai konsep-konsep dasar dan kerangka analisis yang sangat berbeda . Namun secara negatif ,semua teori itu sepaham bahwa linguistik stukturalis kurang mendalam dan,memberikan sumbangan pada bidang linguistik dan pada pemahaman kita pada bidang bahasa melalui pembatasan terhadap apa yang dapat diterima sebagai data linguistis dengan prosedur yang secara ilmiah dapat ditempuh,linguistic strukturalis sengaja mengabaikan banyak hal yang telah dan harus menjadi minat linguis yang dengan serius mengkaji bahasa.
Menjelang dasawarsa tujuhpuluhan beberapa murid dan pengikut Chomsky,antara lain Postal,Lakof,Mc Cawly, dan Kiparsky sebagai reaksi terhadap Chomsky memisahkan diri dari kelompok Chomsky,dan membentuk aliran sendiri. Kelompok Lakof ini terkenal dengan sebutan kaum semantik generatif. Mereka memisahkan diri karena ketidakpuasa terhadap teori Chomsky,yang menyatakan bahwa semantik mempunyai ekssistensi yang lain dari sintaksis dan bahwa struktur batin tidak sama dengan struktur semantis. Menurut teori generatif semantik struktrur semantik dan struktur sintaksis bersifat homogen,dan untuk menghubungkan kedua struktur itu cukup hanya dengan kaidah transformasi saja. Tidak perlu dengan batuan kaidah lain yakni kaidah sintaksis dasar,kaidah proyeksi, dan kaidah fonologi,seperti yang diajarkan Chomsky. Sudah seharusnya semantic dan sintaksis diselidiki bersama sekaligus karena keduanya adalah satu. Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argumen dalam suatu proposisi.
2.3 Kerangka Pikir
Makalah ini menggunakan kerangka piker sebagai berikut
Prinsip dasar
Tokoh Indnsia
Terapan umun
Analisis Kalimat
III. Metode Kajian
Makalah ini mengunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengunakan kajian tata bahasa trasformasi generatif. Mula-mula kalimat ditranskripsikan kemudian dianalisis berdasarkan teori tata bahasa transformasi generatif terutama analisis komponen dasar,komponen transformasional,dan semantik generatif.
IV. Pembahasan
4.1 Prinsip-prinsip Dasar Tatabahasa Transformasi Gegeratif.
TGT bertolak dari hakekat pengetahuan linguistik yang dimiliki oleh penutur asli bahasa. TGT menetapkan pengetahuan linguistik dengan bantuan aturan-aturan "generatif" dan "transformasional" yang sekaligus merupakan petunjuk untuk menyusun dan menginterpretasi kalimat-kalimat-yang terbentuk secara gramatikal dan balk. Tata bahasa menetapkan suatu tuturan gramatikal jika dapat terbangun hubungan yang tepat antara tuturan tersebut dan beberapa kombinasi simbol-simbol yang dihasilkan oleh aturan'tata bahasa. Dalam membangun aturan-aturan, penganut TGT berpegang pada 'cara deduksi dan intuisi penutur asli (Kaseng, 1989:114).
Pada tahap awal, gramatika dalam aliran ini, dijelaskan dengan kaidah-kaidah. Kaidah-kaidah mendahului elemen dan struktur, karena kaidah mendahului elemen dan struktur. Kaidah pertama dimulai dengan membagi atau menjabarkan K(alimat) menjadi F(rase) V(erbal). Setiap elemen berikutnya bias dijabarkan dengan kaidah-kaidah lain. K merupakan satu-satunya elemen yang tampil sebagai masukan bagi suatu kaidah tanpa pernah menjadi keluaran bagi kaidah sebelumnya.
Perangkat kaidah yang pertama adalah kaidah S(truktur)F(rase). Dalam struktur frase, satuan sintaksis terbesar , yaitu K(alimat),melalui penerapan kaidah-kaidah, diperluas menjadi untaian (struktur) satuan-satuan yang lebih kecil, dan berakhir dengan suatu kombinasi antara unsure leksikal dan elemen gramatikal. Teori ini menyerupai analisis konstituen terdekat.
Definisi tata bahasa menurut TG dapat dijelaskan bahwa tata bahasa merupakan sebuah sistem kaidah yang menurunkan (menghasilkan) kalimat-kalimat gramatikal suatu bahasa, dan ide yang menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif (a creative oreativity), mengantarkan kepada asumsi kedua. Asumsi kedua ini menyatakan bahwa selama bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif, dalam tahap belajar manapun guru akan mengarahkan siswanya untuk kreatif menghasilkan ujaran-ujaran (kalimat) baru, daripada sekedar mengulang-ulang atau mengingat-ingat apa yang telah diperolehnya dalam belajar. Meskipun Chomsky mengidentifikasikan kaidah-kaidah TG dengan kompetensi penutur asli, kita tidak harus menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah ini secara sadar digunakan oleh penutur asli dalam menghasilkan ujaran (kalimat). Demikian juga, suatu kaidah tatabahasa tidak berimplikasi dalam pengajaran kaidah-kaidah bahasa. Akan tetapi sesungguhnya kaidah-kaidah itu adalah suatu deskripsi dari idealisasi pengetahuan penutur asli yang tersimpan dalam kesadaran dan kemudian dapat menolongnya menciptakan (menghasilkan) ujaran baru secara kreatif.
Informasi di atas menghantarkan kepada asumsi ketiga, yang menyatakan bahwa dalam berbagai tahap belajar bahasa kemampuan siswa untuk menciptakan ujaran-ujaran baru akan bertambah dengan pengetahuannya tentang kaidah-kaidah yang menggambarkan ujaran.
Seperti halnya konsep langue dan parole dari de Saussure, Chomsky membedakan adanya kemampuan (competence) dan perbuatan berbahasa/ performa (performance) . Kompetensi merujuk pada pengetahuan dasar seseorang tentang sistem, kejadian, atau fakta atau dapat dikatakan bahwa kompetensi merupakan pengetahuan mendasar mengenai system bahasa--kaidah-kaidah tata bahasanya, kosakatanya, seluruh pernak-pernik bahasa dan bagaimana menggunakannya secara padu (Brown, 2007:39). Adapun performa adalah manifestasi yang konkret dan bias diamati sebagai realisasi dari kompetensi. Performa merupakan produksi actual (berbicara, menulis) atau pemahaman (menyimak, membaca) terhadap peristiwa-peristiwa linguistik. Chomsky mencontohkan kompetensi dengan pembicara-pendengar “ideal” yang tidak memperlihatkan hambatan variabel-variabel performa seperti keterbatasan memori, kekacauan, pergeseran, perhatian dan minat, kesalahan, dan fenomena keraguan seperti pengulangan, ketersendatan, jeda, penghilangan, dan penambahan. Inti gahasan Chomsky mengenai hal ini adalah bahwa sebuah teori bahasa merupakan teori kompetensi tidak per;lu memilah-milah sedemikian banyak variable performa yang tidak mencerminkan kemampuan linguistik dasar pembicara-pendengar.
Dengan demokian dapat dikatakan bahwa dalam tata bahasa generatif ini yang menjadi objeknya adalah kemampuan atau kompetensi, meskipun performa juga penting; dan bagi seorang peneliti bahasa focus penelitiannya adalah system kaidah yang dipakai si pembicara untuk membuat kalimat yang diucapkannya. Jadi, tata bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.
TGT juga membuat pembedaan antara tataran struktur batin dan struktur lahir. Struktur lahir jauh lebih menyerupai struktur yang oleh para strukturalis langsung diabstraksikan dari bentuk kalimat. Struktur batin merupakan abstraksi yang lebih berbeda. Dengan diakuinya struktur batin ini akan tersedia sistem yang jauh lebih kaya untuk menganalisis dan menjelaskan hubungan timbal balik antara sintaksis dan semantic dalam kalimat-kalimat bahasa alami.
Dengan kata lain dapat dijelaskan sebagai berikut. Ada dua tataran atau stuktur dalam TGT yakni tataran batin atau lapis batin (deep structure) dan struktur lahir (surface structure). Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin. Hubungan keduanya dapat digambarkan sebagai berikut.
Model Transformasional Perangkat Bahasa
Sintaksis
Kaidah SF
Kaidah Transformasi
Dasar
Stuktur batin Struktur lahir
Komponen semantic Komponen fonologis
Penafsiran semantic Penafsiran fonetis
Struktur dalam terdiri atas komponen dasar (base component) yang selanjutnya terbagi pula atas struktur frase dan aturan penyisipan leksikal (lexical insertion atau sub-categoriza¬tion). Ditambah lagi, komponen dasar ini memiliki leksikon dan kom¬ponen semantik yang menentukan arti bagi aturan-aturan struktur frase clan penyisipan leksikal. Struktur permukaan_terdiri atas kom¬ponen fonologik yang menentukan untaian pengucapan. Kedua tingkat ini dihubungkan oleh kaidah tranformasi. Mengenai hal ini akan dibahas lebih lanjut pada analisis kalimat.
4.2 Tokoh transformasi generatif di Indonesia
Konsep-konsep linguistik modern seperti yang dikembangkan oleh Chomsky yakni teori transformasi generatif gemanya di Indonesia pada akhir tahun Lima puluhan. Pendidikan formal linguistic fakultas sastra dan pendidikan guru sampai akhir tahun 50an masih terpaku pada konsep-konsep tata bahasa tradisional yang sangat bersifat normatif. Perkenalan konsep-konsep linguistic modern terjadi sejak kepulangan sejumlah linguis Indonesia dari Amerika yaitu Anton M. Moelyono dan T.W. Kamil. Gorys keraf, Harrimukti Kridalaksana Merekalah yang pertama-tama memperkanalkan konsep-konsep fonem,morfem dan klausa. Sebelumnya konsep-konep tersebut belum dikenal sebagai satuan lingual. Yang dikenal hanyalah satuan lingual.
Konsep linguistik modern sukar diterima oleh para guru bahasa dan pakar bahasa karena konsep tata bahasa tradisional sudah mendarah daging. Perkembangan waktu jualah yang kemudian menyebabkan konsep linguistic dapat diterima dan konsep linguistic tradisional agak tersisih. Awal tahun 70an dengan terbitnya buku tata bahasa Indonesia karangan Gorys Keraf, perubahan sikap terhadap linguistic modern mulai banyak terjadi.
Datangnya Prof. Verhaar, guru besar linguistic dari Belanda, yang kemudian disusul dengan adanya kerja sama kebahasan Indonesia-Belanda, menjadikan studi linguistic terhadap bahasa-bahasa daerah dan bahasa nasional Indonesia semakin marak. Sejalan dengan hal tersebut pada tanggal 15 november tahun 1975 atas prakarsa linguis senior maka berdirilah organisasi Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI). MLI mengadakan musyawarah nasional 3 tahun sekali.mulai tahun 1983 menerbitkan jurnal yang diberi nama Linguistik Indonesia. Jurnal ini dimaksudkan sebagai wadah bagi para anggota MLI untuk melaporkan atau mempublikasikan hasil penelitianya.
4.3 Terapan Umum Tata Bahasa Trasformasi Generatif
Dalam teori TG, seorang anak memperoleh kompetensinya dalam tahap awal dalam bahasa ibunya. Dalam setiap tahapan anak membentuk hipotesis tertentu tentang kode dan mengetesnya dengan ujaran yang didengarnya, sampai pada akhirnya anak mempelajari keseluruhan kode. Menurut pandangan ini ujaran anak yang menyimpang dari ujaran dewasa bukanlah suatu kesalahan (errors) melainkan suatu manifestasi dari sejenis kode yang telah dia kontrol dalam tahap yang bersangkutan. Apabila kita mengasumsikan bahwa belajar bahasa kedua sama dengan belajar bahasa pertama, kita dapat mengajukan asumsi yang lain untuk pengajaran bahasa yang berhubungan dengan ide kalimat inti (kernels) dan transformasi. Kita mengetahui bahwa ”Kernels” adalah struktur yang lebih kompleks.
Kernels atau kalimat inti adalah kalimat deklaratif yang tidak bermakna ganda dan terdapat dalam struktur dalam (deep structure); sedangkan kalimat transformasi adalah semua tipe kalimat yang diturunkan dari kalimat inti dengan bantuan /hasil kerja kaidah transformasi. Contoh kalimat ‘The boys watced the game’ dapat ditransformasikan menjadi kalimat pasif ‘The game was watched by the boys’. Adapun analisis struktur frase (perumusan awal TGT) adalah sebagai berikut.
• Analisis Kernels atau Komponen Dasar
K
FN FV
Art Nj
V FN
V pang lamp art N
The boy s wacth ed the game
Keterangan :
K : Kalimat; FN : Frase Nomina ; FV : Frase Verba ; Art : Artikel; Nj : Nomina jamak; Vpang : Verba pangkal; Lamp : lampau (Penanda lampau)
• Analisis Komponen Transformasional
K
FN FV
V FP
P FN
The game was watched by the boys
Salah satu versi terakhir dari gramatika generatif Chomsky dikenal sebagai teori penguasaan (government) dan pengikatan (binding). Istilah penguasaan merupakan perluasan dari pemakaian tradisional kata tersebut dalam gramatika. Kata-kata yang menguasai menentukan kasus bagi nomina, frase nomina, pronominal, yang mempunyai hubungan sistaksis khusus dengan kata-kata tersebut. Sedangkan pengikatan atau binding menyangkut hubungan antara anaphora dan pronominal dengan antesedennya. Anafora mengacu pada hal atau fungsi yang menunjuk kembali kepada sesuatu yang telah disebutka sebelumnya dalam kalimat atau wacana ( yang disebut anteseden) (Kridalaksana,1993: 14).
4.4 Analisis Kalimat dalam TGT
Bagian ini menguraikan analisis kalimat menggunakan kaidah komponen dasar, kaidah transformasional dan semantic genaratif.
A. Komponen dasar
Kaidah komponen dasar menurunkan kalimat-kalimat inti. Terdapat dua tipe kaidah dalam hal ini, yakni kaidah struktur frase dan kaidah penyisipan leksikal (Kaseng, 1989: 120). Kaidah struktur frase (SF) memiliki tipe seperti analisis bawahan langsung dalam tata bahasa struktural. Contoh kalimat “Ibu membaca buku” dapat dianalisis sebagai berikut.
K
FN FV
N 1
V FN (N2) Ibu membaca buku
B. Komponen transformasional
Kaidah transformasional bekerja dalam kalimat inti yang diturunkan dari komponen dasar. Dalam versi standar TGT, kaidah transformasional mempertahankan arti. Artinya, kaidah pengubahan kalimat inti ke struktur permukaan tanpa mengubah arti.
Terdapat tiga jenis proses transformasional yaitu penambahan, penghilangan, dan transposisi (addition, deletion, transposition). Contoh pengubahan adalah mengubah kalimat aktif menjadi kalimat pasif. Kalimat “ Ibu membaca buku.” bisa diubah menjadi “Buku dibaca (oleh) ibu.” Analisisnya sama dengan komponen dasar yang dibalik.
K
FN FV
N 2
V FN (N1) Buku dibaca (oleh) ibu
Kalimat “ Buku dibaca oleh ibu” ataupun “Buku dibaca ibu” dikenal oleh penutur asli sebagai dua kalimat yang sama. Dalam kaidah transformasi dapat dikatakan kalimat kedua melepas (menghilangkan) kata oleh .
C. Semantik generatif
Semantik generatif seperti yang diurakan dalam subbab 2 makalaha ini, merupakan pengembangan dari murid-murid dan pengikut Chomsky. Kelompok Lakoff dikenal dengan sebutan kaum semantik generatif . Struktur semantic itu serupa dengan struktur logika, berupa ikatan tidak berkala antara predikat dengan seperangkat argument dalam proposisi. Struktur logika itu dapat digambarkan sebagai berikut.
Proposisi
Predikat Argumen1… Argumen n
Contoh kalimat “Ibu membaca buku” mempunyai struktur
Prop
Pred Arg1 Arg2
membaca Ibu buku
Atau dapat dirumuskan sebagai : Membaca (ibu, buku); Pred (Arg1,Arg2). Jadi proposisi kalimat itu berargumen 2.
V. Penutup
5.1 Simpulan
Aliran transformasi muncul menentang aliran strukturalis yang menyatakan bahwa bahasa merupakan kebiasaan. TGT mempunyai pandangan bahwa bahasa bersifat mentalistik dan kognitif.
Adapun ciri-ciri aliran transformasi adalah sebagai berikut.
1. Berdasarkan faham mentalistik.
Aliran ini meganngap bahasa bukan hanya proses rangsang-tanggap akan tetapi merupakan proses kejiwaan. Aliran ini sagat erat dengan psikolinguistik.
2. Bahasa merupakan innate
Bahasa merupakan faktor innate(keturunan/warisan)
3. Bahasa terdiri dari lapis dalam dan lapis permukaan.
Teori ini memisah bahasa menjadi dua lapis yaitu deep structure dan surface structure. Lapis batin merupakan tempat terjadinya proses berbahasa yang sebenarnya secara mentalistik sedangkan lapis permukaan adalah wujud lahiriah yang ditransformasi dari lapis batin.
4. Bahasa terdiri dari unsur competent dan performance
Linguistic competent atau kemampuan linguistik merupakan pengetahuan seseorang tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah di dalamnya. Linguistic performance atau performansi linguistik adalah keterampilan seseorang menggunakan bahasa.
5. Analisis bahasa bertolak dari kalimat.
6. Membedakan kalimat inti dan kalimat transformasi.
Kalimat inti merupakan kaliamt yang belum dikenai transformasi sedangkan kalimat transformasi merupakan kalimat yang sudah dikenai kaidah transformasi yang ciri-cirinya yaitu lengkap, simpel, statemen, dan aktif. Lam pertumbuhan selanjutnya ciri itu ditambah runtut dan positif.
7. Analisis diwujudkan dalam diagram pohon dan rumus.
Analisis dalam teori ini dimulai dari struktur kalimat lalu turun ke frase menjadi frase benda (FN) dan frase kerja (FV) kemudian dari frase turun ke kata.
8. Gramatikal bersifat generatif.
Bertolak dari teori yang dinamakan tata bahasa generatif tansformasi (TGT).
4.2. Saran
Setiap aliran linguistik tentunya memiliki keunggulan-keunggulan sekaligus kelemahan-kelemahan. Demikian halnya aliran transformasi, tentu memiliki kelebihan dan kelemahan. Untuk itu, sebagai guru bahasa sebaiknya kita memanfaatkan berbagai teori yang tentunya disesuaikan dengan keadaan siswa. Dengan memanfaatkan kelebihan-kelebihan masing-masing teori, guru dapat merancang pembelajarannya sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Sejalan dengan hal tersebut J.B. Carol (1971), mengajukan sintesa kedua teori belajar tersebut yang diberi nama teori pembentukan kebiasaan kognitif (cognitive code learning). Menurut teori Carol ini belajar bahasa adalah rangkaian antara latihan-latihan menguasai pola-pola dan sekaligus menciptakan kondisi belajar yang kondusif agar pola-pola itu terinternalisasikan dalam kesadaran siswa. Tahap berikutnya siswa didorong untuk mampu menghasilkan kalimat baru. Internalisasi dan pembentukan kalimat baru saja, tidak cukup. Tahap berikutnya menurut Carol, siswa harus diterjunkan dalam situasi komunikasi riil seperti yang terjadi pada penutur asli.
DAFTAR PUSTAKA
Brown, Douglas. 2007. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Jakarta:Pearson Ed.
Chaer. Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Kaseng, Sjahruddin. 1989. Linguistik Terapan : Pengantar Menuju Pengajaran Bahasa yang Sukses. Jakarta: Dirjen Dikti Depdikbud.
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta : Gramedia.
Samsuri,...
Saryono, Djoko. ... Gagasan Dasar Noam Chomsky tentang TTG. Malang : Jurnal FBS.
ANALISIS KALIMAT DALAM TATA BAHASA TRANSFORMASI GENERATIF
( Tugas Mata Kuliah Lingistik Umum
Dosen Pengampu Prof. Kisyani Laksono)
Oleh
Faiqotur Rosidah (09745005)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
November, 2009
tugas Fils pendidikan prof. Muhari
ALIRAN PERENIALISME, ESENSIALISME, DAN REKONSTRUKSIONISME DALAM PENDIDIKAN
I. Pendahuluan
A.Latar Belakang
Mengkaji filsafat pendidikan merupakan kegiatan ilmiah yang menarik dan cukup menantang. Hal ini dikarenakan filsafat pendidikan terlahir dari akar ilmu pengetahuan, yaitu filsafat. Perkembangan ilmu filsafat memiliki kontribusi yang cukup besar, terutama dalam ranah pendidikan.
Filsafat pendidikan juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau pedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula.
Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan, yang telah dikembangkan oleh para ahlinya , mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata. Artinya, mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut dapat diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat.
Ada sembilan filsafat pendidikan yang seringkali dikaji dalam rangka pengembangan pendidikan, khususnya di Negara Indonesia. Filsafat pendidikan tersebut adalah Idealisme, Realisme, Materialisme,Pragmatisme, Humanisme, Konstruktivisme Perenialisme, Essensialisme, dan Rekonstruksionisme.
Makalah ini membahas tiga filsafat pendidikan terakhir, yaitu Perenialisme, Essensialisme, dan Rekonstruksionisme.
B.Rumusan Masalah
Makalah ini membahas mengenai hal-hal sebagai berikut :
1. sejarah filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
2. tujuan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
3. penerapan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme di bidang pendidikan, serta
4. kelebihan dan kekurangan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
C. Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini bertujuan untuk menguraikan :
1. sejarah filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
2. tujuan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
3. kontribusi filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
4. kelebihan dan kekurangan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat penulisan makalah ini secara akademis adalah memberikan kajian lebih mendalam mengenai ketiga filsafat pendidikan tersebut dan aplikasinya dalam dunia pendidikan di Indonesia.
II. Pembahasan
A. Sejarah Filsafat Pendidikan Perenialisme, Essensialisme, dan Rekonstruksionalisme
1. Filsafat pendidikan perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad ke-20. Perenialisme lahir suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialis menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosiokultural.
Solusi yang ditawarkan kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat pada zaman kuno dan abad pertengahan. Peradaban – kuno (Yunani Purba) dan abad pertengahan dianggap sebagai dasar budaya bangsa-bangsa di dunia dari masa ke masa dari abad keabad (Sa’dullah, 2009:151).
Pendukung filsafat perenialis adalah Robert Maynard Hutchins dan Mortimer Adler. Hutchins (1963) mengembangkan suatu kurikulum berdasarkan penelitian terhadap Great Books (Buku Besar Bersejarah) dan pembahasan buku-buku klasik.
Perenialis menggunakan prinsip-prinsip yang dikemukakan Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquino. Pandangan-pandangan Plato dan Aristoteles mewakili peradaban Yunani Kuno serta ajaran Thomas Aquino dari abad pertengahan. Filsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri, kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13.
Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. Jadi sikap untuk kembali kemasa lampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini.
Asas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat, kebudayaan yang mempunyai dua sayap, yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik, khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas, dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles.
Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan, bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis, yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri. ST. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang. Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme. Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan, maka ia terkenal dengan nama perenialisme.
Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme.
Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal, maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya, manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib, 1990: 64-65).
2. Filsafat Pendidikan Esensialisme
Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme.
Tokoh-tokoh aliran ini adalah G.W. F. Hegel dan G. Santayana.
a. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831)
Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan, yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak, maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak.
b. George Santayana
George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai, namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih, melaksanakan).
Esensialisme berbeda dengan progresivisme, perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.
3. Filsafat Pendidikan Rekontruksionisme
Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern.
Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang.
B. Tujuan Aliran Filsafat Perenialisme, Esensialisme, dan Rekonstruksionisme
1. Tujuan Filsafat Perenialisme
Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau, karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini, kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebudyaan dan pendidikan zaman sekarang.
Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau.
Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan.
Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali, dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif. Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasil-hasilnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat pendidikan perenialisme adalah mengembalikan keadaan manusia seperti dalam kebudayaan ideal serta mencari dan menemukan arah pendidikan seperti di masa lampau.
2. Tujuan Filsafat Esensialisme
Filsafat Esensialis pada mulanya dirumuskan sebagai kritik terhadap tren-tren progresif di sekolah-sekolah. Aliran ini berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di kalangan muda (Bagley, 1934).
Esensialisme memiliki beberapa kesamaan dengan perenialisme, berpendapat bahwa kultur kita telah memiliki suatu inti pengetahuan umum dan yang harus diberikan di sekolah-sekolah kepada para siswa dalam suatu cara yang sistematik dan berdisiplin. Tidak seperti perennialisme yang menekankan pada kebenaran-kebenaran eksternal, esensialisme menekankan pada apa yang mendukung pengetahuan dan keterampilan yang diyakini penting yang harus diketahui oleh para anggota masyarakat yang produktif.
Esensialisme muncul karena protes terhadap progresivisme, namun dalam protes tersebut tidak menolak atau menentang secara keseluruhan pandangan progresivisme seperti halnya yang dilakukan perennialisme. Ada beberapa aspek dari progresivisme yang secara prinsipil tidak dapat diterimanya. Esensialis berpendapat bahawa betul-betul ada hal-hal yang esensial dari pengalaman anak yang memiliki nilai esensial yang perlu dibimbing.
3. Tujuan Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya teori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.
Pada prinsipnya, aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme, aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri, sarna azali dan abadi, dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. Descartes, seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini, yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia, semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan perasaan hidup. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. Kausa prima, dalam konteks ini, ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. Tuhan adalah aktualitas murni yang sama sekali sunyi dan substansi.
Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung pada ilmu pengetahuan. Namun demikian, meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna, tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan.
C. Penerapan Filsafat Perenialisme, Esensialisme, dan Rekonstruksionisme dalam Pendidikan
1. Filsafat Perennialisme
Perennialisme memandang kebenaran sebagai hal yang konstan, abadi, atau perennial. Tujuan pendidikan adalah memastikan bahwa siswa memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau gagasan-gagasan besar yang tidak berubah. Kaum perennealis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakekat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selama berabad-abad. Jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di setiap zaman.
Lebih jauh lagi, filsafat perennialis menekankan kemampuan berpikir rasional manusia; filsafat itu merupakan pengolahan intelektual yang membuat manusia menjadi benar-benar manusia dan membedakan mereka dari binatang.
Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas, maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh.
Jadi epistemologi dari perenialisme, harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki, yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi, yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki, dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus.
Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai peranan sedemikian, karena telah memiliki evidensi diri sendiri.
Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham.
Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya, telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau.
Dengan mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut, yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni:
1. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar.
2. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karya¬karya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.
Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli terse¬but dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri, dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat pereni¬alisme tersebut.
Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. Masak dalam arti hidup akalnya. Jadi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru, di mana tugas pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.
Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini, Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut, bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis, sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Di samping itu, dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis.
Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu, jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama, maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang, ini disebut pendidikan umum (general education). Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu, diharapkan tiap individu itu terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama.
2. Filsafat Esensialisme
Gerakan back to basic pada pertengahan tahun 1970-an adalah salah satu dorongan untuk menerapkan program-program esensialis di sekolah-sekolah. Esensialis beranggapan bahwa sekolah harus mendidik siswa untuk berkomunikasi dengan jelas dan logis. Keterampilan-keterampilan inti dalam kurikulum haruslah berupa membaca, menulis, berbicara, dan berhitung serta sekolah memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan apakah semua siswa menguasai keterampilan-keterampilan tersebut.
Esensialis tidak memandang anak sebagai orang yang jahat dan tidak pula memandang anak sebagai orang yang secara alamiah baik. Anak-anak tersebut tidak akan menjadi anggota masyarakat yang berguna, kecuali kalau anak-anak secara aktif dan penuh semangat diajarkan nilai disiplin, kerja keras dan rasa hormat pada pihak ‘yang punya otoritas’. Peran guru adalah membentuk para siswa, menangani insting-insting alamiah dan nonproduktif mereka di bawah pengawasan sampai pendidikan mereka selesai.
Menurut Esensialis pendidikan sekolah harus bersifat praktis dan memberi anak-anak pengajaran yang logis yang mempersiapkan mereka untuk hidup, sekolah tidak boleh mencoba mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosiial.
Kurikulum esensialisme seperti halnya perennialisme, berpusat pada mata pelajaran (subject matter centered) . Di sekolah dasar penekanannya pada kemampuan dasar membaca, menulis, dan matematika. Di sekolah menengah diperluas dengan matematika, sains, humaniora, bahasa dan sastra.
Penguasaan terhadap materi kurikulum tersebut merupakan dasar yang esensial bagi general education yang diperlukan dalam hidup. Bagi kaum esensial, menguasai fakta dan konsep dasar disiplin yang esensial merupakan suatu keharusan.
3. Filsafat Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme merupakan lanjutan dari progressivisme. Kaum rekonstruksionis seperti George Counts menganggap bahwa proses edukatif harus didasarkan pada suatu pencarian yang terus-menerus untuk suatu masyarakat yang lebih baik (Sadullah, 2009:167). Sekolah harus mengarahkan perubahan atau rekonstruksi pada tatanan sosial saat ini.
George S. Counts sebagai rekonstruksionisme mengemukakan bahwa sekolah akan betul-betul berperan apabila sekolah menjadi pusat pembangunan masyarakat baru secara keseluruhan, membasmi kemunafikan, peperangan, dan kesukuan. Masyarakat yang menderita kesulitan ekonomi dan masalah-masalah sosial yang besar merupakan tantangan bagi pendidikan untuk menjalankan perannya sebagai agen pembaharu dan rekonstruksi sosial, daripada pendidikan hanya mempertahankan status quo (Sadullah, 2009:1968)
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula. Demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia (Jalaludin, 2007:119).
Tujuan pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran terdidik yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi manusia dalam skala global dan memberi keterampilan pada mereka agar memiliki kemampuan untuk masalah-masalah tersebut. Tujuan akhir pendidikan adalah terciptanya masyarakat baru yaitu suatu masyarakat global yang saling ketergantungan.
Kurikulum merupakan subject matter yang berisikan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik yang beraneka ragam yang dihadapi umat manusia, termasuk masalah-masalah sosial dan pribadi peserta didik itu sendiri. Isi kurikulum tersebut berguna dalam penyusunan disiplin sains sosial dan proses penemuan ilmiah (inquiri ilmiah) sebagai metode kerja untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
Peranan guru menurut paham rekonstruksionisme sama dengan paham pregressivisme. Guru harus menyadarkan si peserta didik terhadap masalah-masalah yang dihadapi manusia, membantu mereka mengidentifikasi masalah-masalah untuk dipecahkannya sehingga peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah tersebut. Guru harus mendorong mereka untuk dapat berpikir alternative dalam memecahkan masalah tersebut. Lebih jauh guru harus mampu menciptakan aktivitas belajar yang berbeda secara serempak.
Sekolah merupakan agen utama untuk perubahan sosial, politik, dan ekonomi di masyarakat. Tugas sekolah adalah mengembangkan rekayasa sosial dengan tujuan mengubah secara radikal wajah masyarakat dewasa ini dan masyarakat yang akan dating. Sekolah memelopori masyarakat ke arah masyarakat baru yang diinginkan.
III. Penutup
Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka dapat disimpulkan kelebihan dan kelemahan tiap-tiap filsafat, yaitu sebagai berikut :
1. Filasafat Perenialisme
Kelebihan :
a. Pendidikan ditekankan pada kebenaran absolut yang bersifat universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu.
Perenialisme menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran, dan keindahan Perenialisme mengangkat kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang menjadi pandangan hidup yang kokoh pada zaman kuno dan abad pertengahan. Dalam pandangan perenialisme pendidikan lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
b. Kurikulum menekankan pada perkembangan intelektual siswa pada seni dan sains.
Untuk menjadi terpelajar secara kultural, para siswa harus berhadapan pada bidang-bidang seni dan sains yang merupakan karya terbaik dan paling significant yang diciptakan oleh manusia. Contohnya, seorang guru bahasa Inggris mengharuskan siswanya untuk membaca Moby Dick nya Melville atau drama-drama Shakespeare.
Kelemahan:
a. Perenialis kurang menerima adanya perubahan-perubahan, karena menurut mereka perubahan banyak menimbulkan kekacauan, ketidakpastian,dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosio-kultural.
b. Focus perenialis mengenai kurikulum adalah pada disiplin-disiplin pengetahuan abadi , hal ini akan berdampak pada kurangnya perhatian pada realitas peserta didik dan minat-minat siswa.
2. Filsafat Esensialisme
Kelebihan :
a. esensialisme membantu untuk mengembalikan subject matter ke dalam proses pendidikan, namun tidak mendukung perenialisme bahwa subject matter yang benar adalah realitas abadi yang disajikan dalam buku-buku besar dari peradaban barat. Great Book tersebut dapat digunakan namun bukan untuk mereka sendiri melainkan untuk dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang ada pada dewasa ini.
b. esensialis berpendapat bahwa perubahan merupaka suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan imtelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandemen cara-cara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.
Kelemahan :
a. menurut esensialis, sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial. Hal ini mengakibatkan adanya orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah yang akan mengindoktrinasi siswa dan mengenyampingkan kemungkinan perubahan.
b. Para pemikir esensialis pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpedoman pada filsafat yang berbeda. Beberapa pemikir esensialis bahkan memandang seni dan ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan siswa agar dapat memberi kontribusi pada masyarakat.
c. Peran guru sangat dominan sebagai seorang yang menguasai lapangan, dan merupakan model yang sangat baik untuk digugu dan ditiru. Guru merupakan orang yang menguasai pengetahuan dan kelas dibawah pengaruh dan pengawasan guru. Jadi, inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa.
4. Filsafat Rekonstruksionisme
Kelebihan :
a. rekonstruksionisme menekankan pada pengalaman yang dimiliki para siswa dengan interaksi ekstensif antara guru dan siswa dan diantara para siswa itu sendiri.
b. melalui suatu pendekatan rekonstruksionis sosial pada pendidikan, para siswa belajar metode-metode yang tepat untuk berhadapan dengan krisis-krisis significan yang melanda dunia : perang, depresi ekonomi, terorisme internasional, kelaparan, inflasi, dan percepatan peningkatan teknologi. Kurikulum disusun untuk menyoroti kebutuhan akan beragam reformasi sosial.
Kelemahan :
Karena tujuan sekolah adalah mengembangkan rekayasa sosial, beban dan tanggung jawab sekolah sangatlah berat.
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin dan Idi Abdullah. 2007. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jogyakarta : Ar-Ruzz
Sa’dullah, Uyoh. 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
http://edu-articles.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Main_Page
http://e-pendidikan.net/
http://gkagloria.or.id/index.php
http://hhmsociety.multiply.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Halaman_Utama
http://mimbardemokrasi.blogspot.com/
http://rajasidi.multiply.com/
http://wordpress.com/
http://www.2bryan.com/
http://www.geocities.com/HotSprings/6774/jurnal3.html
http://www.re-searchengines.com/artikel.html
http://wahyudisy.blogspot.com/2008/01/aliran-progresivisme-aliran.html
I. Pendahuluan
A.Latar Belakang
Mengkaji filsafat pendidikan merupakan kegiatan ilmiah yang menarik dan cukup menantang. Hal ini dikarenakan filsafat pendidikan terlahir dari akar ilmu pengetahuan, yaitu filsafat. Perkembangan ilmu filsafat memiliki kontribusi yang cukup besar, terutama dalam ranah pendidikan.
Filsafat pendidikan juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau pedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejala kependidikan yang tertentu pula.
Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan, yang telah dikembangkan oleh para ahlinya , mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata. Artinya, mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut dapat diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat.
Ada sembilan filsafat pendidikan yang seringkali dikaji dalam rangka pengembangan pendidikan, khususnya di Negara Indonesia. Filsafat pendidikan tersebut adalah Idealisme, Realisme, Materialisme,Pragmatisme, Humanisme, Konstruktivisme Perenialisme, Essensialisme, dan Rekonstruksionisme.
Makalah ini membahas tiga filsafat pendidikan terakhir, yaitu Perenialisme, Essensialisme, dan Rekonstruksionisme.
B.Rumusan Masalah
Makalah ini membahas mengenai hal-hal sebagai berikut :
1. sejarah filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
2. tujuan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
3. penerapan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme di bidang pendidikan, serta
4. kelebihan dan kekurangan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
C. Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini bertujuan untuk menguraikan :
1. sejarah filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
2. tujuan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
3. kontribusi filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
4. kelebihan dan kekurangan filsafat pendidikan perenialisme, essensialisme, dan rekonstrusionisme
D. Manfaat Penulisan Makalah
Manfaat penulisan makalah ini secara akademis adalah memberikan kajian lebih mendalam mengenai ketiga filsafat pendidikan tersebut dan aplikasinya dalam dunia pendidikan di Indonesia.
II. Pembahasan
A. Sejarah Filsafat Pendidikan Perenialisme, Essensialisme, dan Rekonstruksionalisme
1. Filsafat pendidikan perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad ke-20. Perenialisme lahir suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialis menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosiokultural.
Solusi yang ditawarkan kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat pada zaman kuno dan abad pertengahan. Peradaban – kuno (Yunani Purba) dan abad pertengahan dianggap sebagai dasar budaya bangsa-bangsa di dunia dari masa ke masa dari abad keabad (Sa’dullah, 2009:151).
Pendukung filsafat perenialis adalah Robert Maynard Hutchins dan Mortimer Adler. Hutchins (1963) mengembangkan suatu kurikulum berdasarkan penelitian terhadap Great Books (Buku Besar Bersejarah) dan pembahasan buku-buku klasik.
Perenialis menggunakan prinsip-prinsip yang dikemukakan Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquino. Pandangan-pandangan Plato dan Aristoteles mewakili peradaban Yunani Kuno serta ajaran Thomas Aquino dari abad pertengahan. Filsafat perenialisme terkenal dengan bahasa latinnya Philosophia Perenis. Pendiri utama dari aliran filsafat ini adalah Aristoteles sendiri, kemudian didukung dan dilanjutkan oleh St. Thomas Aquinas sebagai pemburu dan reformer utama dalam abad ke-13.
Perenialisme memandang bahwa kepercayaan-kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar penyusunan konsep filsafat dan pendidikan zaman sekarang. Sikap ini bukanlah nostalgia (rindu akan hal-hal yang sudah lampau semata-mata) tetapi telah berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan-kepercayaan tersebut berguna bagi abad sekarang. Jadi sikap untuk kembali kemasa lampau itu merupakan konsep bagi perenialisme di mana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kemasa lampau dengan berdasarkan keyakinan bahwa kepercayaan itu berguna bagi abad sekarang ini.
Asas-asas filsafat perenialisme bersumber pada filsafat, kebudayaan yang mempunyai dua sayap, yaitu perenialisme yang theologis yang ada dalam pengayoman supermasi gereja Katholik, khususnya menurut ajaran dan interpretasi Thomas Aquinas, dan perenialisme sekular yakni yang berpegang kepada ide dan cita filosofis Plato dan Aristoteles.
Pendapat di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan H.B Hamdani Ali dalam bukunya filsafat pendidikan, bahwa Aristoteles sebagai mengembangkan philosophia perenis, yang sejauh mana seseorang dapat menelusuri jalan pemikiran manusia itu sendiri. ST. Thomas Aquinas telah mengadakan beberapa perubahan sesuai dengan tuntunan agama Kristen tatkala agama itu datang. Kemudian lahir apa yang dikenal dengan nama Neo-Thomisme. Tatkala Neo-Thomisme masih dalam bentuk awam maupun dalam paham gerejawi sampai ke tingkat kebijaksanaan, maka ia terkenal dengan nama perenialisme.
Pandangan-pandangan Thomas Aquinas di atas berpengaruh besar dalam lingkungan gereja Katholik. Demikian pula pandangan-pandangan aksiomatis lain seperti yang diutarakan oleh Plato dan Aristoteles. Lain dari itu juga semuanya mendasari konsep filsafat pendidikan perenialisme.
Neo-Scholastisisme atau Neo-Thomisme ini berusaha untuk menyesuaikan ajaran-ajaran Thomas Aquinas dengan tuntutan abad ke dua puluh. Misalnya mengenai perkembangan ilmu pengetahuan cukup dimengerti dan disadari adanya. Namun semua yang bersendikan empirik dan eksprimentasi hanya dipandang sebagai pengetahuan yang fenomenal, maka metafisika mempunyai kedudukan yang lebih penting. Mengenai manusia di kemukakan bahwa hakikat pengertiannya adalah di tekankan pada sifat spiritualnya. Simbol dari sifat ini terletak pada peranan akal yang karenanya, manusia dapat mengerti dan memaham'i kebenaran-kebenaran yang fenomenal maupun yang bersendikan religi (Bamadib, 1990: 64-65).
2. Filsafat Pendidikan Esensialisme
Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme.
Tokoh-tokoh aliran ini adalah G.W. F. Hegel dan G. Santayana.
a. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 – 1831)
Georg Wilhelm Friedrich HegelHegel mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Sebuah penerapan yang dapat dijadikan contoh mengenai sintesa ini adalah pada teori sejarah. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkat kelanjutan, yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari berpikirnya Tuhan. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak, maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak.
b. George Santayana
George Santayana memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai, namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih, melaksanakan).
Esensialisme berbeda dengan progresivisme, perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Idealisme dan realisme adalah aliran filsafat yang membentuk corak esensialisme. Dua aliran ini bertemu sebagai pendukung esensialisme, akan tetapi tidak lebur menjadi satu dan tidak melepaskan sifatnya yang utama pada dirinya masing-masing.
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir yang disebut esensialisme, karena itu timbul pada zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan sebagian ciri alam pikir modern. Esensialisme pertama-tama muncul dan merupakan reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis abad pertengahan. Maka, disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.
3. Filsafat Pendidikan Rekontruksionisme
Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggeris rekonstruct yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran rekonstruksionisme, pada prinsipnya, sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu hendak menyatakan krisis kebudayaan modern.
Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang.
B. Tujuan Aliran Filsafat Perenialisme, Esensialisme, dan Rekonstruksionisme
1. Tujuan Filsafat Perenialisme
Di zaman kehidupan modern ini banyak menimbulkan krisis diberbagai bidang kehidupan manusia, terutama dalam bidang pendidikan. Untuk mengembalikan keadaan krisis ini, maka perenialisme memberikan jalan keluar yaitu berupa kembali kepada kebudayaan masa lampau yang dianggap cukup ideal dan teruji ketangguhannya. Untuk itulah pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya kepada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
Jelaslah bila dikatakan bahwa pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali kepada masa lampau, karena dengan mengembalikan keapaan masa lampau ini, kebudayaan yang dianggap krisis ini dapat teratasi melalui perenialisme karena ia dapat mengarahkan pusat perhatiannya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang. Perenialisme rnemandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang berpengaruh baik teori maupun praktek bagi kebudyaan dan pendidikan zaman sekarang.
Dari pendapat ini sangatlah tepat jika dikatakan bahwa perenialisme mcmandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) in terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau.
Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, di mana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan.
Setelah perenialisme menjadi terdesak karena perkembangan politik industri yang cukup berat timbulah usaha untuk bangkit kembali, dan perenialisme berharap agar manusia kini dapat memahami ide dan cita filsafatnya yang menganggap filsafat sebagai suatu azas yang komprehensif. Perenialisme dalam makna filsafat sebagai satu pandangan hidup yang bcrdasarkan pada sumber kebudayaan dan hasil-hasilnya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat pendidikan perenialisme adalah mengembalikan keadaan manusia seperti dalam kebudayaan ideal serta mencari dan menemukan arah pendidikan seperti di masa lampau.
2. Tujuan Filsafat Esensialisme
Filsafat Esensialis pada mulanya dirumuskan sebagai kritik terhadap tren-tren progresif di sekolah-sekolah. Aliran ini berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di kalangan muda (Bagley, 1934).
Esensialisme memiliki beberapa kesamaan dengan perenialisme, berpendapat bahwa kultur kita telah memiliki suatu inti pengetahuan umum dan yang harus diberikan di sekolah-sekolah kepada para siswa dalam suatu cara yang sistematik dan berdisiplin. Tidak seperti perennialisme yang menekankan pada kebenaran-kebenaran eksternal, esensialisme menekankan pada apa yang mendukung pengetahuan dan keterampilan yang diyakini penting yang harus diketahui oleh para anggota masyarakat yang produktif.
Esensialisme muncul karena protes terhadap progresivisme, namun dalam protes tersebut tidak menolak atau menentang secara keseluruhan pandangan progresivisme seperti halnya yang dilakukan perennialisme. Ada beberapa aspek dari progresivisme yang secara prinsipil tidak dapat diterimanya. Esensialis berpendapat bahawa betul-betul ada hal-hal yang esensial dari pengalaman anak yang memiliki nilai esensial yang perlu dibimbing.
3. Tujuan Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.
Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya teori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi, mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.
Pada prinsipnya, aliran rekonstruksionisme memandang alam metafisika merujuk dualisme, aliran ini berpendirian bahwa alam nyata ini mengandung dua macam bakikat sebagai asal sumber yakni hakikat materi dan bakikat rohani. Kedua macam hakikat itu memiliki ciri yang bebas dan berdiri sendiri, sarna azali dan abadi, dan hubungan keduanya menciptakan suatu kehidupan dalam alam. Descartes, seorang tokohnya pernah menyatakan bahwa umumnya manusia tidak sulit menerima atas prinsip dualisme ini, yang menunjukkan bahwa kenyataan lahir dapat segera ditangkap oleh panca indera manusia, semen tara itu kenyataan bathin segera diakui dengan adanya akal dan perasaan hidup. Di balik gerak realita sesungguhnya terdapatlah kausalitas sebagai pendorongnya dan merupakan penyebab utama atas kausa prima. Kausa prima, dalam konteks ini, ialah Tuhan sebagai penggerak sesuatu tanpa gerak. Tuhan adalah aktualitas murni yang sama sekali sunyi dan substansi.
Alam pikiran yang demikian bertolak hukum-hukum dalam filsafat itu sendiri tanpa bergantung pada ilmu pengetahuan. Namun demikian, meskipun filsafat dan ilmu berkembang ke arah yang lebih sempurna, tetap disetujui bahwa kedudukan filsafal lebih tinggi dibandingkan ilmu pengetahuan.
C. Penerapan Filsafat Perenialisme, Esensialisme, dan Rekonstruksionisme dalam Pendidikan
1. Filsafat Perennialisme
Perennialisme memandang kebenaran sebagai hal yang konstan, abadi, atau perennial. Tujuan pendidikan adalah memastikan bahwa siswa memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau gagasan-gagasan besar yang tidak berubah. Kaum perennealis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakekat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah selama berabad-abad. Jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di setiap zaman.
Lebih jauh lagi, filsafat perennialis menekankan kemampuan berpikir rasional manusia; filsafat itu merupakan pengolahan intelektual yang membuat manusia menjadi benar-benar manusia dan membedakan mereka dari binatang.
Ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi menurut perenialisme, karena dengan ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif yang bersifat analisa. Jadi dengan berpikir maka kebenaran itu akan dapat dihasilkan melalui akal pikiran. Menurut epistemologi Thomisme sebagian besarnya berpusat pada pengolahan tenaga logika pada pikiran manusia. Apabila pikiran itu bermula dalam keadaan potensialitas, maka dia dapat dipergunakan untuk menampilkan tenaganya secara penuh.
Jadi epistemologi dari perenialisme, harus memiliki pengetahuan tentang pengertian dari kebenaran yang sesuai dengan realita hakiki, yang dibuktikan dengan kebenaran yang ada pada diri sendiri dengan menggunakan tenaga pada logika melalui hukum berpikir metode dedduksi, yang merupakan metode filsafat yang menghasilkan kebenaran hakiki, dan tujuan dari epistemologi perenialisme dalam premis mayor dan metode induktifnya sesuai dengan ontologi tentang realita khusus.
Menurut perenialisme penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan. Prinsip-prinsip pertama mampu mempunyai peranan sedemikian, karena telah memiliki evidensi diri sendiri.
Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal faktor-faktor dengan pertautannya masing-masing memahami problema yang perlu diselesaikan dan berusaha untuk men gadakan penyelesaian masalahnya. Dengan demikian ia telah mampu mengembangkan suatu paham.
Anak didik yang diharapkan menurut perenialisme adalah mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran tokoh-tokoh besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol dalam bidang-bidang seperti bahasa dan sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan alam dan lain-lainnya, telah banyak yang mampu memberikan ilmunisasi zaman yang sudah lampau.
Dengan mengetahui tulisan yang berupa pikiran dari para ahli yang terkenal tersebut, yang sesuai dengan bidangnya maka anak didik akan mempunyai dua keuntungan yakni:
1. Anak-anak akan mengetahui apa yang terjadi pada masa lampau yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar.
2. Mereka memikirkan peristiwa-peristiwa penting dan karya¬karya tokoi1 terse but untuk diri sendiri dan sebagai bahan pertimbangan (reverensi) zaman sekarang.
Jelaslah bahwa dengan mengetahui dan mengembangkan pemikiran karya-karya buahpikiran para ahli tersebut pada masa lampau, maka anak-anak didik dapat mengetahui bagaimana pemikiran para ahli terse¬but dalam bidangnya masing-masing dan dapat mengetahui bagaimana peristiwa pada masa lampau tersebut sehingga dapat berguna bagi diri mereka sendiri, dan sebagai bahan pertimbangan pemikiran mereka pada zaman sekarang ini. Hal inilah yang sesuai dengan aliran filsafat pereni¬alisme tersebut.
Tugas utama pendidikan adalah mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan. Masak dalam arti hidup akalnya. Jadi akal inilah yang perlu mendapat tuntunan ke arah kemasakan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis dan berhitung anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Sekolah sebagai tempat utama dalam pendidikan yang mempersiapkan anak didik ke arah kemasakan melalui akalnya dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan sebagai tugas utama dalam pendidikan adalah guru-guru, di mana tugas pendidikanlah yang memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Faktor keberhasilan anak dalam akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan mengajarkan.
Adapun mengenai hakikat pendidikan tinggi ini, Robert Hutchkins mengutarakan lebih lanjut, bahwa kalau pada abad pertengahan filsafat teologis, sekarang seharusnya bersendikan filsafat metafisika. Filsafat ini pada dasarnya adalah cinta intelektual dari Tuhan. Di samping itu, dikatakan pula bahwa karena kedudukan sendi-sendi tersebut penting maka perguruan tinggi tidak seyogyanya bersifat utilistis.
Dari ungkapan yang diutarakan oleh Robert Hutchkins di atas mengenai hakikat pendidikan tinggi itu, jelaslah bahwa pendidikan tinggi sekarang ini hendaklah berdasarkan pada filsafat metafisika yaitu filsafat yang berdasarkan cinta intelektual dari Tuhan. Kemudian Robert Hutchkins mengatakan bahwa oleh karena manusia itu pada hakikatnya sama, maka perlulah dikembangkan pendidikan yang sama bagi semua orang, ini disebut pendidikan umum (general education). Melalui kurikulum yang satu serta proses belajar yang mungkin perlu disesuaikan dengan sifat tiap individu, diharapkan tiap individu itu terbentuk atas dasar landasan kejiwaan yang sama.
2. Filsafat Esensialisme
Gerakan back to basic pada pertengahan tahun 1970-an adalah salah satu dorongan untuk menerapkan program-program esensialis di sekolah-sekolah. Esensialis beranggapan bahwa sekolah harus mendidik siswa untuk berkomunikasi dengan jelas dan logis. Keterampilan-keterampilan inti dalam kurikulum haruslah berupa membaca, menulis, berbicara, dan berhitung serta sekolah memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan apakah semua siswa menguasai keterampilan-keterampilan tersebut.
Esensialis tidak memandang anak sebagai orang yang jahat dan tidak pula memandang anak sebagai orang yang secara alamiah baik. Anak-anak tersebut tidak akan menjadi anggota masyarakat yang berguna, kecuali kalau anak-anak secara aktif dan penuh semangat diajarkan nilai disiplin, kerja keras dan rasa hormat pada pihak ‘yang punya otoritas’. Peran guru adalah membentuk para siswa, menangani insting-insting alamiah dan nonproduktif mereka di bawah pengawasan sampai pendidikan mereka selesai.
Menurut Esensialis pendidikan sekolah harus bersifat praktis dan memberi anak-anak pengajaran yang logis yang mempersiapkan mereka untuk hidup, sekolah tidak boleh mencoba mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosiial.
Kurikulum esensialisme seperti halnya perennialisme, berpusat pada mata pelajaran (subject matter centered) . Di sekolah dasar penekanannya pada kemampuan dasar membaca, menulis, dan matematika. Di sekolah menengah diperluas dengan matematika, sains, humaniora, bahasa dan sastra.
Penguasaan terhadap materi kurikulum tersebut merupakan dasar yang esensial bagi general education yang diperlukan dalam hidup. Bagi kaum esensial, menguasai fakta dan konsep dasar disiplin yang esensial merupakan suatu keharusan.
3. Filsafat Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme merupakan lanjutan dari progressivisme. Kaum rekonstruksionis seperti George Counts menganggap bahwa proses edukatif harus didasarkan pada suatu pencarian yang terus-menerus untuk suatu masyarakat yang lebih baik (Sadullah, 2009:167). Sekolah harus mengarahkan perubahan atau rekonstruksi pada tatanan sosial saat ini.
George S. Counts sebagai rekonstruksionisme mengemukakan bahwa sekolah akan betul-betul berperan apabila sekolah menjadi pusat pembangunan masyarakat baru secara keseluruhan, membasmi kemunafikan, peperangan, dan kesukuan. Masyarakat yang menderita kesulitan ekonomi dan masalah-masalah sosial yang besar merupakan tantangan bagi pendidikan untuk menjalankan perannya sebagai agen pembaharu dan rekonstruksi sosial, daripada pendidikan hanya mempertahankan status quo (Sadullah, 2009:1968)
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan norma yang benar pula. Demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia (Jalaludin, 2007:119).
Tujuan pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran terdidik yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik yang dihadapi manusia dalam skala global dan memberi keterampilan pada mereka agar memiliki kemampuan untuk masalah-masalah tersebut. Tujuan akhir pendidikan adalah terciptanya masyarakat baru yaitu suatu masyarakat global yang saling ketergantungan.
Kurikulum merupakan subject matter yang berisikan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik yang beraneka ragam yang dihadapi umat manusia, termasuk masalah-masalah sosial dan pribadi peserta didik itu sendiri. Isi kurikulum tersebut berguna dalam penyusunan disiplin sains sosial dan proses penemuan ilmiah (inquiri ilmiah) sebagai metode kerja untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
Peranan guru menurut paham rekonstruksionisme sama dengan paham pregressivisme. Guru harus menyadarkan si peserta didik terhadap masalah-masalah yang dihadapi manusia, membantu mereka mengidentifikasi masalah-masalah untuk dipecahkannya sehingga peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah tersebut. Guru harus mendorong mereka untuk dapat berpikir alternative dalam memecahkan masalah tersebut. Lebih jauh guru harus mampu menciptakan aktivitas belajar yang berbeda secara serempak.
Sekolah merupakan agen utama untuk perubahan sosial, politik, dan ekonomi di masyarakat. Tugas sekolah adalah mengembangkan rekayasa sosial dengan tujuan mengubah secara radikal wajah masyarakat dewasa ini dan masyarakat yang akan dating. Sekolah memelopori masyarakat ke arah masyarakat baru yang diinginkan.
III. Penutup
Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka dapat disimpulkan kelebihan dan kelemahan tiap-tiap filsafat, yaitu sebagai berikut :
1. Filasafat Perenialisme
Kelebihan :
a. Pendidikan ditekankan pada kebenaran absolut yang bersifat universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu.
Perenialisme menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran, dan keindahan Perenialisme mengangkat kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang menjadi pandangan hidup yang kokoh pada zaman kuno dan abad pertengahan. Dalam pandangan perenialisme pendidikan lebih banyak mengarahkan perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
b. Kurikulum menekankan pada perkembangan intelektual siswa pada seni dan sains.
Untuk menjadi terpelajar secara kultural, para siswa harus berhadapan pada bidang-bidang seni dan sains yang merupakan karya terbaik dan paling significant yang diciptakan oleh manusia. Contohnya, seorang guru bahasa Inggris mengharuskan siswanya untuk membaca Moby Dick nya Melville atau drama-drama Shakespeare.
Kelemahan:
a. Perenialis kurang menerima adanya perubahan-perubahan, karena menurut mereka perubahan banyak menimbulkan kekacauan, ketidakpastian,dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosio-kultural.
b. Focus perenialis mengenai kurikulum adalah pada disiplin-disiplin pengetahuan abadi , hal ini akan berdampak pada kurangnya perhatian pada realitas peserta didik dan minat-minat siswa.
2. Filsafat Esensialisme
Kelebihan :
a. esensialisme membantu untuk mengembalikan subject matter ke dalam proses pendidikan, namun tidak mendukung perenialisme bahwa subject matter yang benar adalah realitas abadi yang disajikan dalam buku-buku besar dari peradaban barat. Great Book tersebut dapat digunakan namun bukan untuk mereka sendiri melainkan untuk dihubungkan dengan kenyataan-kenyataan yang ada pada dewasa ini.
b. esensialis berpendapat bahwa perubahan merupaka suatu kenyataan yang tidak dapat diubah dalam kehidupan sosial. Mereka mengakui evolusi manusia dalam sejarah, namun evolusi itu harus terjadi sebagai hasil desakan masyarakat secara terus-menerus. Perubahan terjadi sebagai kemampuan imtelegensi manusia yang mampu mengenal kebutuhan untuk mengadakan amandemen cara-cara bertindak, organisasi, dan fungsi sosial.
Kelemahan :
a. menurut esensialis, sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial. Hal ini mengakibatkan adanya orientasi yang terikat tradisi pada pendidikan sekolah yang akan mengindoktrinasi siswa dan mengenyampingkan kemungkinan perubahan.
b. Para pemikir esensialis pada umumnya tidak memiliki kesatuan garis karena mereka berpedoman pada filsafat yang berbeda. Beberapa pemikir esensialis bahkan memandang seni dan ilmu sastra sebagai embel-embel dan merasa bahwa pelajaran IPA dan teknik serta kejuruan yang sukar adalah hal-hal yang benar-benar penting yang diperlukan siswa agar dapat memberi kontribusi pada masyarakat.
c. Peran guru sangat dominan sebagai seorang yang menguasai lapangan, dan merupakan model yang sangat baik untuk digugu dan ditiru. Guru merupakan orang yang menguasai pengetahuan dan kelas dibawah pengaruh dan pengawasan guru. Jadi, inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa.
4. Filsafat Rekonstruksionisme
Kelebihan :
a. rekonstruksionisme menekankan pada pengalaman yang dimiliki para siswa dengan interaksi ekstensif antara guru dan siswa dan diantara para siswa itu sendiri.
b. melalui suatu pendekatan rekonstruksionis sosial pada pendidikan, para siswa belajar metode-metode yang tepat untuk berhadapan dengan krisis-krisis significan yang melanda dunia : perang, depresi ekonomi, terorisme internasional, kelaparan, inflasi, dan percepatan peningkatan teknologi. Kurikulum disusun untuk menyoroti kebutuhan akan beragam reformasi sosial.
Kelemahan :
Karena tujuan sekolah adalah mengembangkan rekayasa sosial, beban dan tanggung jawab sekolah sangatlah berat.
DAFTAR PUSTAKA
Jalaluddin dan Idi Abdullah. 2007. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jogyakarta : Ar-Ruzz
Sa’dullah, Uyoh. 2009. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
http://edu-articles.com/
http://en.wikipedia.org/wiki/Main_Page
http://e-pendidikan.net/
http://gkagloria.or.id/index.php
http://hhmsociety.multiply.com/
http://id.wikipedia.org/wiki/Halaman_Utama
http://mimbardemokrasi.blogspot.com/
http://rajasidi.multiply.com/
http://wordpress.com/
http://www.2bryan.com/
http://www.geocities.com/HotSprings/6774/jurnal3.html
http://www.re-searchengines.com/artikel.html
http://wahyudisy.blogspot.com/2008/01/aliran-progresivisme-aliran.html
Langganan:
Postingan (Atom)